logo


Zakat Bisa Pulihkan Ekonomi Nasional, Menko PMK: Yang Disasar Adalah Orang Miskin Dulu

Muhadjir Effendy menyebutkan bahwa zakat bisa turut berperan dalam upaya penanganan kemiskinan di Indonesia.

1 Mei 2021 11:43 WIB

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy Kemenko PMK

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Umat Islam memiliki kewajiban untuk menunaikan zakat. Zakat adalah harta tertentu yang wajib dikeluarkan oleh orang yang beragama Islam dan diberikan kepada golongan yang berhak menerimanya. Zakat terbagi menjadi dua jenis, yakni zakat fitrah dan zakat mal atau zakat harta.

Sebagai salah satu rukun islam, zakat ditunaikan untuk diberikan utamanya kepada golongan fakir miskin yang tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy menyebutkan bahwa zakat bisa turut berperan dalam upaya penanganan kemiskinan di Indonesia.


Jelang Lebaran, Ratusan Toko di Gajahan Solo Alami Pungutan Zakat

"Kalau kita bicara soal zakat itu sebetulnya yang harus disasar adalah orang miskin dulu. Jangan terus berpikir untuk yang lain," ujar Muhadjir saat memberikan arahan dalam launching Lazis Kemandirian Umat (Lazisku) Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (KBPII), pada Jumat (30/4).

Dia menjelaskan, berdasarkan outlook data zakat 2021 Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), Total potensi zakat di Indonesia, sebesar Rp327,6 triliun, Besar potensi tersebut dirinci berdasarkan ragam jenisnya yakni zakat pertanian Rp19,9 triliun, zakat peternakan Rp19,51 triliun, zakat uang Rp58,78 triliun, zakat penghasilan dan jasa Rp139,7 triliun, dan zakat perusahaan Rp144,5 triliun.

"Karena itu, zakat sangat berpotensi untuk membantu pemulihan ekonomi nasional dan membantu mereka yang tergolong miskin. Data BPS menunjukkan, jumlah penduduk miskin per September 2020 sebesar 27,55 juta orang, dan itu kemungkinan terus meningkat sampai saat ini," tuturnya.

Berdasarkan riset Baznas, dari potensi zakat yang mencapai Rp327,6 triliun, yang terealisasi baru mencapai Rp71,4 triliun atau sekitar 21,7 persen. Dari jumlah ini Rp61,2 triliun tidak melalui organisasi pengelola zakat (OPZ) resmi yakni Baznas, dan hanya Rp10,2 triliun yang melalui OPZ resmi.

Karena itu Muhadjir meminta kepada lembaga pengumpul zakat, khususnya Lazisku KBPII agar bisa berperan lebih aktif dalam menggerakkan orang yang wajib mengeluarkan zakat (muzakki) untuk menunaikan zakat.

Hal itu bisa dilakukan dengan berbagai cara, seperti menggencarkan sosialisasi melalui media sosial, sampai ceramah kegaamaan mengimbau para muzakki untuk menunaikan zakat

"Tenaga pengumpul zakat juga harus profesional terlatih dengan prasyaratan yang diperlukan. Kemudian harus juga optimalisasi pendistribusian dan daya guna zakat untuk mereka yang benar membutuhkan," tandasnya.

Sebagai informasi, Lazizku KBPII merupakan organisasi pengumpul zakat anyar yang dibentuk oleh Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (KBPII). Lazisku memiliki visi membangun kemandirian umat islam Indonesia melalui pengelolaan dana zakat, infaq, dan sodaqoh. Lazisku diketuai oleh Soetrisno Bachir dan juga selaku Dewan Penasehat.

Gercep Gibran Urus Pungli di Gajahan, Gibran: Uang Akan Segera Kami Kembalikan

Halaman: 
Penulis : Aurora Denata