logo


Dukung Akselerasi Transformasi Digital, Kominfo Siapkan Deployment Jaringan 5G

Pemerintah juga tengah fokus memperkecil disparitas akeses internet antarwilayah.

30 April 2021 05:18 WIB

Menkominfo Johnny G Plate
Menkominfo Johnny G Plate kominfo.go.id

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Menteri Komunikasi dan Informatika, Johnny G. Plate mengatakan bahwa saat ini pemerintah tengah fokus mempersiapkan deployment jaringan telekomunikasi 5G. Namun disaat bersamaan, pemerintah juga tengah fokus memperkecil disparitas akeses internet antarwilayah.

“Ada beberapa hal yang harus saya luruskan. Betul, kita saat ini harus mempersiapkan deployment 5G, tetapi di saat bersamaan fokus kita adalah dalam rangka meningkatkan internet link ratio dan memperkecil disparitas internet antarwilayah di seluruh wilayah negara kita melalui deployment 4G secara masif untuk masyarakat, itu tugas utama dan paling utama dalam rangka transformasi digital kita saat ini,” jelasnya dalam Webinar 5G Masa Depan Komunikasi RI, dari Jakarta, Rabu (28/04/2021).

Meski demikian, Menteri Johnny menegaskan bahwa Indonesia tidak tertinggal jauh dalam pengimplementasian 5G. Hal tersebut mengingat beberapa negara tetangga masih baru memulai implementasi 5G.


Kolaborasi Lewat Platform Digital, Johnny Harap Bisa Gerakkan Industri Hiburan

“Banyak negara yang sudah melakukan implementasi 5G, iya betul, tetapi tidak secara massif Jadi, masih di tahap yang sangat awal semuanya. Kita pun di sini sudah melakukan, kalau saya tidak salah 12 kali trial 5G. Jadi, bukan tertinggal tetapi memang kita mempersiapkan agar ekosistem 5G itu siap benar-benar, sehingga deployment 5G nanti memberikan manfaat dan return bermanfaat bagi masyarakat dan return yang memadai bagi operator-operator 5G. Kita harus mempersiapkan termasuk persiapan regulasi-regulasinya,” paparnya.

Menteri Johnny mengatakan bahwa hal yang perlu diluruskan adalah biding atau lelang 2,3 GHz spektrum pita frekuensi karena bukan hanya ditujukan pada deployment 5G. Ia menyebut pemerintah akan terus melakukan farming frekuensi spektrum  untuk menjaga agar tersedianya pita yang memadai untuk deployment 5G.

“Jangan sampai salah, nanti dunia dan para ahli mentertawakan Indonesia seolah-olah 2,3 GHz atau 2300 MHz ini hanya untuk 5G. Mohon maaf, nanti dunia mentertawakan kita karena kekhilafan dan kekeliruan komunikasi karena spektrum frekuensi utama untuk 5G tidak saja di 2,3 Ghz, tetapi di sisi yang lainnya pun. Jadi, semua level mencakup lower band, coverage band, dan high band, serta ultrahigh band. Ini harus jelas,” jelasnya.

“Kita boleh bangun infrastruktur, betapapun juga kalau tidak tersedia spektrumnya enggak bisa itu 5G dilakukan. Saya mohon maaf dan saya harus luruskan, saya tidak tahu mulainya dari mana ini sampai 2,3 GHz ini diidentifikasi sebagai 5G,” ujarnya.

Menteri Johnny menegaskan bahwa lelang 2,3 MHz ini untuk memastikan tersedianya kebutuhan spektrum frekuensi telekomunikasi, khususnya melengkapi kebutuhan 4G dan mengawali initial showcase untuk 5G.

“Jangan sampai salah dan jangan dipenggal-penggal, dipotong-potong ini. Untuk itu, karena kita membutuhkan spektrum yang sangat banyak, kepada saya disampaikan saat ini kita menggunakan 737 MHz spektrum frekuensi untuk kebutuhan telekomunikasi nasional,” tegasnya.

Lebih lanjut, Menteri Johnny menyebutkan proyeksi kebutuhan deployment 5G sebesar 2047 MHz spektrum atau masih kekurangan 1310 MHz yang dibutuhkan sampai tahun 2024-2025 dan seterusnya, sehingga perlu dilakukan farming frekuensi di semua level band.

“Ini jangan dicampuradukkan dan ribut dengan 5G, apalagi 5G ini ada tingkatan dan aplikasi atau peruntukannya untuk komunikasi, data dan atau ke autonomos ya atau robotisasi. Itu di level spektrum yang berbeda-beda,” harapnya.

Menteri Johnny juga memaparkan untuk layanan telekomunikasi biasa dan kecepatan yang tinggi, tingkatan latensi yang rendah berada di level-level tertentu. Sedangkan untuk kebutuhan robotic ada di frekuensi yang tinggi. Menkominfo menyebutkan 5G tidak human-to machine tetapi komunikasinya bergerak dari machine-to-machine berada di level spektrum frekuensi dan aplikasi teknologi yang berbeda.

“Jelas dulu kita ini, nantinya pemanfaatan IoT yang menjadi luar biasa pentingnya. Ini, saya mohon saat kita komunikasikan ke publik, kita lakukan dengan baik agar masyarakat kita nanti mendapat informasi yang lengkap dan tepat,” jelasnya.

Menteri Johnny menjelaskan Indonesia memerlukan jaringan 5G untuk mendukung akselerasi transformasi digital di seluruh wilayah tanah air Indonesia. Ia pun mengatakan bahwa rencana akselerasi transformasi digital Indonesia sudah mendapatkan perhatian internasional.

“Di mana diantara menteri-menteri ICT ASEAN, kami selalu berkomunikasi. Saya juga berkomunikasi dengan International Telecommunication Uniion (ITU) berkali-kali untuk menjelaskan, bertanya, dan mereka memberi apresiasi karena kebijakan akselerasi transformasi digital Indonesia ini sangat mendapat respons dan apresiasi dunia,” pungkasnya.

Apresiasi Novel Grafis Agnez Mo, Menkominfo: Jadi Inspirasi Kebudayaan Indonesia

Halaman: 
Penulis : Trisna Susilowati
 
×
×