logo


DPR Kritik Langkah Pemerintah Pangkas Pertumbuhan Ekonomi Hingga 5,1 Persen

alasan BI memangkas, karena ekspektasi konsumen dan penjualan eceran masih tumbuh secara terbatas itu dikhawatirkan dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi.

22 April 2021 12:20 WIB

Wakil Ketua Komisi XI DPR RI, Achmad Hafisz Tohir
Wakil Ketua Komisi XI DPR RI, Achmad Hafisz Tohir dpr.go.id

JAKARTA, JITUNEWS.COM- Langkah Bank Indonesia yang memangkas pertumbuhan ekonomi 2021, menjadi kisaran 4,1 hingga 5,1 persen menuai kritikan dari Anggota Komisi XI DPR Achmad Hafisz Thohir.

Salah satu alasan BI memangkas, karena ekspektasi konsumen dan penjualan eceran masih tumbuh secara terbatas itu dikhawatirkan dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi. Ditambah dengan masih adanya kekhawatiran terhadap pandemi Covid-19.

“Hal ini yang pernah saya pernah cemaskan, jika vaksinasi tidak tercapai maka dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi. Sehingga asumsi makro tidak dapat berjalan baik," ujarnya di Jakarta, Rabu (21/4/2021).


Ekonomi Indonesia Masih Stabil, Jokowi: Kita Harus Bersyukur

Lebih jauh kata Mantan Wakil Ketua Komisi XI DPR ini, paska koreksi target pertumbuhan tersebut. Maka semua akan ikut berubah. "Pelan pelan asumsi makro tersebut mulai di koreksi (cenderung turun)," ucapnya.

Hafisz mengungkapkan Indonesia sendiri memiliki leverage tinggi serta pasar terbesar di ASEAN. Karena menguasai setengah dari populasi di wilayah ASEAN. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai regional leader sehingga berpengaruh bagi perekonomian regional maupun dunia. "Sehingga vaksinasi ini sangat penting, karena ketika program itu tidak mencapai target, maka semua asumsi makro kita akan drop," tuturnya Ketua Komisi VI DPR Periode 2014-2019.

Namun demikian, Hafisz mengaku dapat memaklumi keputusan BI merevisi target pertumbuhan dengan berbagai pertimbangan.

"Jadi saya sangat memahami jika World Bank dan Bank Sentral Indonesia mengoreksi angka pertumbuhan, karena ekonomi RI tidak akan banyak bergerak jika Pandemi Covid-19 belum dituntaskan," terangnya

Diakui Hafisz, indikator-indikator perekonomian nasional tampaknya saat ini belum memperlihatkan pergerakan yang significant.

“Saya melihat Retail dan konsumsi belum menunjukkan pertumbuhan yang antusias (stagnan),” tuturnya.

Disisi lain, Wakil Ketua BKSPA ini memahami bahwa ekonomi akan bergerak mengikuti perbaikan kondisi pandemi, dimana saat ini Indonesia masih tertahan pada angka 4% vaksinasi dari total pnduduk.

"Bandingkan dengan Amerika Serikat yang sudah melampaui 100 juta lebih peduduknya yang sudah tervaksinasi (40%). Sementara Eropa sepakat menargetkan mencapai 70% dari jumlah penduduknya pada September 2021 bisa tervaksinasi," pungkasnya.

Jokowi: Indonesia Diproyeksikan Masuk Kelompok Pemulihan Ekonomi Tercepat Setelah Tiongkok

Halaman: 
Penulis : Khairul Anwar