logo


Mengintip Aktivitas Pengolahan Konsentrat di Freeport

Pabrik Pengolahan menghasilkan konsentrat tembaga dan emas ini berada dilokasi Mile 74

30 April 2015 17:18 WIB


MIMIKA, JITUNEWS.COM - Puluhan tahun PT Freeport Indonesia telah beroperasi di Indonesia. Banyak sudah sumbangsih yang diberikan Freeport kepada Indonesia khususnya masyarakat Papua. Tiap harinya ribuan ton konsentrat hasil tambang diolah di lokasi pertambangan Tembagapura Papua. Banyak yang mengira jika Freeport itu memproduksi emas batangan padahal yang sejatinya diproduksi Freeport adalah berupa konsentrat yang kemudian sebagian diekspor dan dikirim ke pabrik Smelter di Gresik Jawa Timur

Beberapa waktu lalu, tim Jitunews Ali Hamid dan Vicky Anggriawan berkesempatan untuk berkunjung ke pabrik pertambangan Freeport yang berlokasi di Grassberg, Tembagapura. Beratnya medan membuat siapapun yang berkunjung ke sana harus menjalani tes medis dahulu sebelum melakukan perjalanan ke kawasan dengan suhu 10 derajat celcius dan cuaca yang sangat berkabut. Maklum, dengan kondisi oksigen yang tipis membuat siapapun yang mendaki itu harus dalam kondisi fit.

Perjalanan menunju Grassberg ditempuh dengan menggunakan jalur udara melalui Chopper Puma berkapasitas sekitar 20 orang selama 30 menit dari Bandara Mozez Kilangin Mimika menunju kota Tembaga Pura. Sementara jika menggunakan jalan darat bisa menempuh perjalanan sekitar 2 jam dan cukup melelahkan.


Peluang Ekspor Akar Gingseng Jepang (Gobo) Terbuka Lebar

Tiba di helipad Tembagapura, kami langsung disabut oleh bus berukuran truk berpenggerak 4 roda atau 4WD. Tentu saja, bus berukuran truk itu sudah disiapkan untuk menghadapi medan yang berat dan terjal seperti areal pertambangan. Suasana di dalam bis juga cukup nyaman untuk para penumpang. Perjalanan dari Tembagapura menuju Grassberg, pabrik pengolahan konsentrat membutuhkan waktu selama 45 menit.

Begitu sampai di lokasi pertambangan, kami langsung menggunakan alat pelindung diri seperti safety shoes, safety helmet, dan safety glass. Tujuannya adalah untuk melindungi diri kita dari resiko kecelakaan kerja. Kami juga mendapat penjelasan singkat mengenai prosedur keselamatan tersebut. Setelah semua dipakai, akhirnya kami berjalan menuju kereta gantung atau tram di ketingian 2486 meter dpl atau di atas permukaan laut. Perjalanan menggunakan trem itu untuk menempuh ketingian 4286 meter dpl.

Perjalanan dengan trem ditempuh dalam waktu 10 menit. Begitu sampai di atas kami langsung disambut kabut yang tebal dan suhu udara yang menusuk kulit. Sayang sekali kami tidak bisa mendapatkan view penambangan Grasberg yang terkenal dengan lubang besar yang menganga tersebut karena ditutup kabut tebal. Jarak pandang pun menjadi terbatas. Di sana kami mendapatkan penjelasan mengenai proses penambangan di Grasberg tersebut.

Untuk diketahui, Grasberg merupakan penyumbang utama ore (hasil tambang berupa batuan yang mengandung mineral) ke pabrik konsentrat yang berada di bawah. Bayangkan saja diameter lubang tambang yang mencapai 3 km menandakan bahwa aktivitas penambangan sangat tinggi. Namun Freeport tidak lama lagi akan menutup tambang Grasberg pada tahun 2017 karena cadangan mineralnya sudah tidak ekonomis lagi. Freeport akan menggantinya dengan menggunakan sistem tambang underground dengan melubangi beberapa titik di bawah Grasberg dan juga meneruskan penambangan di Eastberg.

Dari pengamatan JItunews.com Freeport mengolah bebatuan yang awalnya tidak memiliki nilai tambah diubah menjadi produk yang laku dijual. Ada 3 proses untuk mengubah batuan-batuan besar menjadi pasir-pasir yang dicampur air. Proses itu diantaranya adalah sek mill, ball mill, self floating, dan pengiriman. Proses produksi konsentrat itu disiram dengan air untuk memisahkan mineral berharga dari pengotor yang menutupinya. Langkah-langkah utamanya adalah penghancuran, penggilingan, pengapungan, dan pengeringan. Penghancuran dan penggilingan mengubah bentuk besaran bijih menjadi ukuran pasir halus.

Selanjutnya, pasir-pasir halus tadi dipisahkan antara mineral tembaga, emas dan perak (konsentrat) dengan mineral pengotornya dengan melakukan pengapungan (Flotasi).  Flotasi dilakukan dengan cara yaitu bubur konsentrat (slurry) yang terdiri dari bijih yang sudah halus (hasil gilingan) dan air dicampur dengan reagen dimasukkan ke dalam serangkaian tangki pengaduk yang disebut dengan self flotasi. Nantinya, pasir tembaga, emas, dan perak akan mengambang sedangkan mineral pengotor yang disebut tailing tetap dibawah dan akan dibuang.

Setelah konsentrat didapatkan dan dikumpulkan, barulah konsentrat dipompa ke Portsite melalui empat jaringan pipa slurry sepanjang 115 km. Sesampainya di Portsite, konsentrat ini dikeringkan sampai kandungannya hanya 9% air dan kemudian dikapalkan untuk dijual.

Melon Granat, Primadona Baru Buah Melon?

Halaman: 
Penulis : Vicky Anggriawan, Ali Hamid