logo


Menko PMK: Puasa Ramadan Tidak Hanya Siang, Melainkan Juga Malam

Artinya, upaya menahan diri harus tetap dilakukan selama sebulan penuh Ramadan.

15 April 2021 08:58 WIB

Menko PMK Muhadjir Effendy memberikan kuliah tujuh menit (kultum) di Masjid Istiqlal jelang salat tarawih, Rabu (14/4/2021) malam.
Menko PMK Muhadjir Effendy memberikan kuliah tujuh menit (kultum) di Masjid Istiqlal jelang salat tarawih, Rabu (14/4/2021) malam. Humas Kemenko PMK

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Ramadan merupakan bulan penuh hikmah dan memiliki banyak keberkahan. Pada bulan Ramadan, umat Islam di seluruh dunia melaksanakan ibadah puasa sebagai wujud kepatuhan dan ketakwaan terhadap perintah Allah SWT dan Rasul-Nya.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy mengatakan bahwa puasa Ramadan bukan hanya dilakukan pada siang hari, melainkan termasuk malam hari. Artinya, upaya menahan diri harus tetap dilakukan selama sebulan penuh Ramadan.

"Puasa kita itu adalah puasa 1 (satu) bulan Ramadan. Bukan puasanya itu hanya siang hari saat tidak makan tidak minum. Malam juga puasa, hanya saja ada keringanan, yaitu boleh makan dan boleh berhubungan suami istri. Jadi jangan berpikiran, puasanya kan siang, kalau malam ya bebas kita boleh ke diskotek, boleh macam-macam (yang negatif), yang penting puasanya tidak makan minum, jadi tidak batal. Inilah makna yang keliru dari ibadah puasa," kata  Muhadjir saat memberikan kuliah tujuh menit (kultum) di Masjid Istiqlal jelang salat tarawih, Rabu (14/4/2021) malam.


4 Hal Penyebab Batal Puasa yang Masih Diperdebatkan, Termasuk Menggunakan Lipstik

Muhadjir lalu menjelaskan keringanan puasa. Barang siapa yang bepergian ataupun sakit maka orang itu dapat membatalkan puasa dan mengganti dengan hari yang lain.

Apalagi, jika kondisi bepergian dan sakit itu dapat mengancam keselamatan orang tersebut maka puasanya dapat dibatalkan. Sesungguhnya, ungkap Muhadjir, Allah menghendaki kemudahan dan tidak menghendaki kesukaran.

"Kalau dia bepergian dan dia sakit tapi nekat berpuasa, hukumnya adalah haram. Saat pandemi seperti sekarang yang dapat mengancam kehidupan berbangsa, kita dapat meninggalkan (puasa), berupaya mencegah, membendung ancaman bahaya yang sedang melanda bangsa Indonesia," tegas di depan jamaah di masjid terbesar Asia Tenggara itu.

Lebih lanjut, Muhadjir mengatakan menurut kaidah fikih Islam, mencegah terjadinya kerusakan dan kehancuran lebih diutamakan daripada mencari manfaat atau mencari faedah yang belum tentu bisa didapat.

"Itulah kenapa misalnya mudik ditiadakan, salat tarawih dibatasi," kata Menko PMK.

 

Fokus Bersyiar Selama Ramadan, Kartika Putri Minta Maaf ke Netizen Soal Perseteruannya dengan dr Richard Lee

Halaman: 
Penulis : Trisna Susilowati