logo


Tepis Ceramah Tengku Zulkarnain Soal Orang Hitam, PBNU: Surga Tidak Dikaveling Warna Kulit

PBNU sebut surga diberikan kepada seseorang karena Rahmat Allah SWT.

15 April 2021 06:30 WIB

Ketua PBNU bidang Hukum, Robikin Emhas
Ketua PBNU bidang Hukum, Robikin Emhas dok. artpartner.biz

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Robikin Emhas turut menanggapi ceramah Tengku Zulkarnain yang menjadi viral di media sosial karena dituding rasis. Ia menduga Tengku Zulkarnain tengah bercanda dengan menyebut orang hitam tidak akan masuk surga. Pasalnya, kata Robikin, surga diberikan kepada seseorang karena Rahmat Allah SWT.

"Mungkin yang bersangkutan bercanda. Yang jelas, dalam pemahaman akidah Ahlussunnah Waljamaah, seseorang masuk surga itu semata karena rahmat dari Allah SWT. Bukan karena selainnya," kata Robikin Emhas dilansir  detikcom, Rabu (14/4/2021).

Robikin mengatakan bahwa seseorang tidak bisa hanya mengandalkan ibadah untuk masuk surga. Namun lebih ke bagaimana seseorang menjalani perintah Allah SWT dan menjauhi semua larangan-Nya.


Harapkan Toleransi, Tengku Zulkarnain: Yang Tidak Puasa Hargai Mereka yang Puasa

"Namun, jika semua itu dikonversi dengan nilai tertentu, lalu dibandingkan dengan berat timbangan satu biji bola mata atau organ tubuh berupa jantung misalnya, maka tetap tidak akan sebanding dengan karunia Allah berupa organ tubuh tersebut," ujarnya.

"Itu baru satu organ tubuh. Bagaimana kalau dengan keseluruhan organ tubuh plus nyawa, oksigen, dan semua jenis anugerah nikmat yang diberikan kepada manusia," imbuhnya.

Lebih lanjut, Robikin menepis ceramah Tengku Zulkarnain yang menyebut orang berkulit hitam akan dirubah menjadi berkulit merah jambu ketika masuk surga. Ia menegaskan bahwa surga tidak bisa dinilai karena warna kulit seseorang.

"Jadi tidak benar kalau surga itu dikaveling untuk warna kulit tertentu," pungkasnya.

Ceramahnya Dianggap Rasis Sebut Orang Hitam Tak Boleh Masuk Surga, Tengku Zulkarnain Beri Klarifikasi

Halaman: 
Penulis : Trisna Susilowati