logo


Respons Komunitas Internasional terhadap Myanmar Terhalang Rusia dan China

Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa menyebut jika respons komunitas internasional terhadap Myanmar terhalang oleh Rusia dan China yang memiliki kedekatan hubungan dengan junta militer

12 April 2021 14:07 WIB

(Ilustrasi) Pasukan militer Myanmar
(Ilustrasi) Pasukan militer Myanmar sputniknews

BRUSSELS, JITUNEWS.COM - Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Joseph Borrell mengatakan bahwa Rusia dan China menjadi hambatan bagi komunitas internasional untuk merespons tindakan junta militer Myanmar mengambil alih pemerintahan melalui aksi kudeta. Ia juga mengatakan bahwa Uni Eropa bisa menawarkan insentif ekonomi yang lebih besar kepada Myanmar jika kehidupan demokrasi di negara tersebut sudah direstorasi.

"Tidak mengejutkan jika Rusia dan China menghalangi upaya Dewan Keamanan PBB (terhadap Myanmar), seperti menjatuhkan sanksi embargo senjata," kata Borrell pada Minggu (11/4), dikutip Channel News Asia.

"Kompetisi geopolitik di Myanmar akan membuatnya sangat sulit untuk mencapai kesepahaman," tambahnya.


Terkait Peningkatan Aktivitas Militer Rusia, Presiden Ukraina Minta Dukungan Erdogan

"Tapi kami wajib mengupayakannya," lanjutnya.

Seperti diketahui, China dan Rusia selama ini memiliki hubungan baik dengan junta militer Myanmar, dan merupakan penyuplai senjata terbesar mereka.

Pada pekan lalu, Dewan Keamanan PBB kembali mendesak agar para tokoh pemimpin pemerintahan Myanmar terpilih, termasuk Aung San Suu Kyi yang sejak awal Februari lalu ditangkap oleh pihak junta militer, untuk segera dibebaskan.

Sementara itu, meski hubungan kerja sama di bidang ekonomi antara Uni Eropa dengan Myanmar relatif lebih kecil daripada China, namun Joseph Borrell mengatakan bahwa pihaknya akan meningkatkan hubungan ekonomi dengan Myanmar jika junta militer mengembalikan kekuasaan kepada pemerintahan terpilih.

Pada 2019 lalu, investasi langsung Uni Eropa di Myanmar secara keseluruhan hanya senilai USD$ 700 juta, jauh lebih rendah dibanding dengan investasi China di negara Asia Tenggara tersebut yang mencapai lebih dari US$ 19 Miliar.

Media Israel Sebut Mossad sebagai Pelaku Serangan Siber terhadap Fasilitas Nuklir Iran

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia