logo


Perdana Menteri Italia Sebut Erdogan sebagai Diktator

Perdana Menteri Italia menilai sikap Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan saat berada di dalam sebuah pertemuan dengan Presiden Komisi Uni Eropa Ursula von der Leyen seperti sikap seorang diktator.

9 April 2021 13:33 WIB

Presiden Turki Erdogan saat bertemu dengan Presiden Dewan Uni Eropa Charles Michel dan Presiden Komisi Uni Eropa Ursula von der Leyen
Presiden Turki Erdogan saat bertemu dengan Presiden Dewan Uni Eropa Charles Michel dan Presiden Komisi Uni Eropa Ursula von der Leyen sputniknews

ROMA, JITUNEWS.COM - Perdana Menteri Italia Mario Draghi menyebut Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan sebagai seorang "diktator", saat ditanya mengenai sikap Erdogan terhadap Presiden Uni Eropa Ursula von der Leyen dalam sebuah negosiasi yang digelar di Ankara, Turki pada pekan ini.

"Saya sangat tidak setuju dengan tindakan Erdogan terhadap Presiden von der Leyen...Saya pikir tindakan itu tidak sesuai dan saya sangat kecewa dengan penghinaan yang harus dihadapi oleh von der Leyen. Seseorang harus jujur mengenai hal ini, saya bisa menyebut mereka sebagai diktator, dengan siapa seseorang tetap harus bekerja sama ketika mengungkapkan visi dan pendapat yang berbeda," kata Draghi kepada wartawan.

Insiden tersebut terjadi dalam sebuah pertemuan yang digelar di Ankara, Turki, antara Presiden Erdogan dengan dua tokoh penting Uni Eropa, yakni Presiden Dewan Eropa Charles Michel dan Presiden Komisi Uni Eropa Ursula von der Leyen. Erdogan dan Charles Michel terlihat duduk di dua kursi yang tersedia, sedangkan von der Leyen terpaksa duduk di sebuah sofa.


AS dan Filipina Khawatir dengan Peningkatan Aktivitas Militer China di Laut China Selatan

Menariknya, insiden tersebut terjadi saat ketiga tokoh tersebut tengah membahas mengenai hak asasi perempuan usai Turki keluar dari sebuah kesepakatan mengenai tindak kekerasan berdasar gender.

Usai pertemuan tersebut, Kementerian Luar Negeri Turki kemudian mengklarifikasi bahwa penyusunan kursi yang ada di dalam ruang pertemuan tersebut sudah sesuai dengan permintaan ketiga tokoh politik tersebut.

Ketiga tokoh pemimpin bertemu di Ankara guna membahas mengenai langkah-langkah peningkatan hubungan antara Turki dan Uni Eropa, termasuk mengenai kesepakatan bilateral terkait pengungsi yang ditanda-tangani pada 2016. Dalam perjanjian tersebut, Uni Eropa akan menyediakan anggaran bagi pemerintah Turki untuk menampung dan membiayai keperluan para pencari suaka yang ingin masuk ke wilayah Eropa namun ditolak oleh Yunani.

Krisis Imigran Ilegal di Perbatasan AS-Meksiko Diprediksi Bakal Semakin Memburuk

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia