logo


Said Aqil Minta Dosen Kurangi Ngajar Aqidah, Imam Besar New York Heran: Harus Gila untuk Pahami Pemikiran yang Gila?

Imam Besar Masjid Raya New York Shamsi Ali mempertanyakan dasar logika yang digunakan Said.

7 April 2021 18:34 WIB

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj (tengah) menyampaikan pidato saat memperingati Hari Santri Nasional 2017 di Tugu Proklamasi, Jakarta, Minggu (22/10).
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj (tengah) menyampaikan pidato saat memperingati Hari Santri Nasional 2017 di Tugu Proklamasi, Jakarta, Minggu (22/10). Jitunews/FPC/Muhammad Rifqi Riyanto

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj meminta agar dosen-dosen agama difakultas umum tidak terlalu banyak mengajarkan aqidah dan syariah. Menurutnya, materi tersebut cukup diberikan dua kali pertemuan. Said beralasan agar mahasiswa tidak menjadi radikal.

Namun, kata Said hal tersebut tidak berlaku untuk dosen yang mengajar di fakultas ushuluddin (dasar-dasar agama), fiqih (hukum), dan tafsir hadits. Pasalnya, jurusan tersebut mendalami aqidah dan syariah secara mendalam.

Menanggapi hal tersebut, Imam Besar Masjid Raya New York Shamsi Ali mengaku heran dengan cara berpikir Said Aqil. Hal tersebut ia sampaikan di akun Twitter pribadinya, Selasa (6/4/2021).


Said Aqil: Rela Terhadap Investasi Miras, Maka Jangan Salahkan Kalau Bangsa Rusak

"Saya menilai cara berfikir ini kontra logika. Mendalami akidah menjadi penyebab radikalisme?" tulis Syamsi Ali.

Shamsi Ali mempertanyakan apakah dengan mengurangi materi aqidah bisa mengurangi radikalisme. Ia juga mempertanyakan dasar logika apa yang digunakan Said.

"Atau harusnya gila untuk memahami pemikiran yang gila?" tanyanya.

Punya Kemampuan Ini, Ketum PBNU Said Aqil Dinilai Layak Jadi Komut KAI

Halaman: 
Penulis : Trisna Susilowati