logo


Rusia Sebut Sanksi Uni Eropa Bakal Picu Terjadinya Perang Sipil di Myanmar

Kementerian Luar Negeri Rusia menilai sanksi Uni Eropa hanya akan membuat situasi Myanmar meningkat menjadi perang sipil berskala penuh

7 April 2021 15:45 WIB

Berbekal batu dan ketapel, warga sipil Myanmar bentrok dengan pihak militer bersenjata lengkap
Berbekal batu dan ketapel, warga sipil Myanmar bentrok dengan pihak militer bersenjata lengkap Reuters

MOSKOW, JITUNEWS.COM - Pemerintah Rusia pada Selasa (6/4) mengatakan bahwa perang sipil kemungkinan dapat terjadi di Myanmar jika negara barat semakin meningkatkan sanksi mereka terhadap junta militer yang mengambil alih pemerintahan Myanmar melalui aksi kudeta.

Sejauh ini, 570 warga sipil, termasuk belasan anak-anak, tewas ditembak oleh pasukan keamanan dan kepolisian Myanmar yang juga sudah menahan lebih dari 3.500 warga sipil yang menentang aksi kudeta tersebut.

Pada awal Februari lalu, pihak militer sudah menangkap dan memenjarakan tokoh pemerintahan termasuk pemimpin Partai NLD Aung San Suu Kyi. Penangkapan tersebut dilakukan usai pihak militer menuding pemerintahan terpilih Myanmar telah melakukan tindak kecurangan dalam pemilu November lalu.


Bahas Situasi Perbatasan Ukraina, Diplomat AS dan Rusia Gelar Pertemuan Mendadak

"Faktanya, sanksi semacam itu berkontribusi memperparah konflik kedua pihak dan akhirnya, mendesak warga Myanmar menuju situasi perang sipil skala penuh," kata Kementerian Luar Negeri Rusia dikutip Interfax.

Sebelumnya, Uni Eropa dikabarkan tengah mempersiapkan sanksi kolektif untuk dijatuhkan kepada semua pihak yang memiliki hubungan militer Myanmar. Hal itu disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Perancis Jean-Yves Le Drian.

"Kita akan menambah sanksi ekonomi...terhadap lembaga ekonomi yang berhubungan dengan pihak militer sehingga sanksi-sanksi tersebut dapat segera dijatuhkan," kata Le Drian kepada parlemen Perancis.

Jepang Belum Bahas Kemungkinan Boikot Olimpiade Musim Dingin Beijing 2022 dengan AS

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia