logo


Sebut Negara Berpenduduk Muslim Tertinggal, Ma'ruf Amin Ungkap Penyebabnya

Wakil Presiden Ma'ruf Amin berbicara mengenai penyebab negara mayoritas berpenduduk Islam mengalami ketertinggalan dalam bidang ekonomi, pendidikan, iptek, dan lainnya

4 April 2021 17:15 WIB

KH Ma\'ruf Amin
KH Ma'ruf Amin Ist

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Wakil Presiden Ma'ruf Amin berbicara mengenai penyebab negara mayoritas berpenduduk Islam mengalami ketertinggalan. Ma'ruf mengatakan bahwa perjalanan dakwah Muhammad SAW bisa menjadi pelajaran.

"Pelajaran penting yang dapat kita petik dari perjalanan dakwah Rasulullah SAW adalah bahwa cara berpikir adalah kunci utama dari maju mundurnya sebuah peradaban. Cara berpikir yang diajarkan Rasulullah adalah cara berpikir atau manhaj al-fikr apa yang menjadi sumber terbentuknya peradaban Islam sebagaimana terjadi di era keemasan Islam, yaitu cara berfikir wasathy; yaitu cara berfikir yang moderat, dinamis, namun tetap dalam koridor manhaji dan tidak ekstrem," kata Ma'ruf dalam sambutannya di acara webinar nasional IKADI-BNPT 2021 yang bertajuk 'Peran Da'i dalam Deradikalisasi Paham Keagamaan Indonesia', Minggu (4/4).

Ma'ruf mengatakan bahwa cara pandang para da'i tidak boleh sempit. Ia lalu mencontohkan adanya masyarakat yang menganggap Covid-19 sebagai teori konspirasi.


Meski Mayoritas Muslim, Maruf Amin Tegaskan Indonesia Bukan Negara Islam

"Cara berpikir yang wasathy bukanlah cara pandang atau cara berpikir yang eksklusif dan sempit serta tidak terbuka terhadap perubahan. Karena itu, para da'i harus meneladani cara berpikir Rasulullah SAW dan tidak ikut dalam arus berpikir sempit, seperti fenomena yang muncul belakangan ini. Contoh sederhana cara berpikir sempit adalah tidak percaya bahwa Covid-19 adalah nyata, atau percaya pada teori-teori konspirasi tanpa mencoba untuk memahami fenomena dengan akal sehat dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan," ungkapnya.

Ma'ruf juga menyinggung soal aksi teror bom di Indonesia. Menurutnya, hal itu diakibatkan cara berpikir radikal terorisme.

"Contoh paling aktual dari cara berfikir radikal terorisme yang menyimpang itu adalah peristiwa bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar pada tanggal 28 Maret 2021. Tindakan ini tidak sesuai dengan ajaran Islam karena Islam tidak mengajarkan kekerasan dan pemaksaan kehendak (ikrahiyyan) di dalam dakwahnya dan juga dalam memperjuangkan aspirasi melawan ketidakadilan. Sebaliknya islam mengajarkan cara-cara yang santun (layyinan), dan dilakukan dengan cara-cara nasihat yang baik (mau'izhah hasanah), serta berdialog dengan cara-cara yang terbaik (mujadalah billati hiya ahsan)," jelasnya.

Ma'ruf mengatakan bahwa cara berpikir yang sempit seperti itulah yang bisa menghambat membangun kembali peradaban Islam. Hal itu membuat banyak negara berpenduduk Islam tertinggal dalam bidang ekonomi, pendidikan, iptek, dan lainnya.

"Cara berfikir sempit seperti itu menghambat dan kontra produktif terhadap upaya membangun kembali peradaban Islam. Hal itulah yang menjadi salah satu penyebab mengapa banyak negara berpenduduk muslim masih mengalami ketertinggalan dalam bidang ekonomi, pendidikan, iptek dan bidang lainnya," pungkasnya.

Klaim RI Berhasil Merawat Keberagaman, Maruf Amin: Sepatutnya Jadi Kebanggaan

Halaman: 
Penulis : Aurora Denata