logo


Desak Moeldoko Mundur dari Kepala KSP, Pengamat: Ia Jadi Beban Politik Jokowi

Pengamat Politik Universitas Paramadina, Henri Satrio sebut pemerintah telah bersikap adil dalam menilai permasalahan Partai Demokrat

1 April 2021 07:15 WIB

Moeldoko
Moeldoko Ist

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Pengamat Politik Universitas Paramadina, Henri Satrio mengatakan bahwa keputusan pemerintah menolak pendaftaran Partai Demokrat hasil Kongres Luar Biasa (KLB) adalah hal yang tepat. Menurutnya, pemerintah telah bersikap adil dalam menilai permasalahan Partai Demokrat.

"Menurut saya ini ada dua yang kita dapat lihat, pertama pemerintah sangat objektif melihat kasus Demokrat ini, dan kasus ini nggak susah-susah banget gitu karena Pak Mahfud dari awal mengatakan yang dipegang pemerintah AD/ART 2020 dan sudah tepat menurut saya apa yang dikatakan Pak Yasonna dan Pak mahfud, jadi kalau mau menyanggah ya lewat pengadilan itu sudah sangat tepat," kata Henri Satrio seperti dilansir detikcom, Rabu (31/3/2021) malam.

Henri lantas meminta Moeldoko mundur dari jabatannya sebagai Kepala Kantor Staf Presiden (KSP). Menurutnya, Moeldoko hanya menjadi beban politik Presiden Joko Widodo karena dinilai tidak mampu menganalisa masalah.


Kubu Moeldoko Akan Lawan Usai Ditolak, Ini Kata Partai Demokrat

"Pak Moeldoko ini memang menurut saya beliau mundur aja dari jabatan sebagai Kepala KSP karena jadi beban politik Pak Jokowi. Terus menurut saya sangat riskan gambaran Kepala KSP Meoldoko itu, riskannya itu Kepala KSP itu kan menjadi mata, telinga dan penciuman presiden. Kalau sampai salah menganalisa kan jadi salah semuanya," ujarnya.

"Ini beliau untuk urusan Demokrat ini bukan saja salah penciuman penglihatan dan pendengaran, tapi salah analisa juga sampai akhirnya menerima buaian orang Demokrat. Jadi sangat disayangkan memang seharusnya mundur saja karena bukan hanya jadi beban politik, tapi juga kurang cakap membentengi Pak Presiden," lanjutnya.

Kepengurusan Demokrat Hasil KLB Ditolak, Lucy Kurniasari: Keadilan Masih Ada di Negeri Tercinta

Halaman: 
Penulis : Trisna Susilowati