logo


Kecam Rencana Impor Beras 1 Juta Ton, PDIP: Mendag Harusnya Satu Nafas dengan Jokowi

PDIP menegaskan bahwa rencana impor beras merenggut kesejahteraan petani Indonesia

25 Maret 2021 21:25 WIB

Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto
Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto Jitunews/Khairul Anwar

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto mengecam rencana Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi yang akan mengimpr satu juta ton beras. Menurutnya, rencana impor beras tersebut bertolak belakang dengan cita-cita bangsa Indonesia yang hendak mensejahterakan petani.

"Kalau kita tiba-tiba melakukan impor beras, ini bertentangan dengan aspek-aspek legitimasi itu. Kemudian upaya untuk mensejahterakan petani itu masuk di dalam Pancasila, di mana cita-cita itu bertujuan membebaskan manusia dari berbagai belenggu penjajah, termasuk mereka pemburu rente yang ingin mengambil jalan pintas dengan melakukan impor sesuatu yang seharusnya kita mampu memproduksi," tegas Hasto dalam webinar PDIP, Kamis (25/3/2021).

Ia menegaskan bahwa rencana impor beras merenggut kesejahteraan petani Indonesia. Apalagi berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) selama Januari hingga April 2021 produksi beras surplus sebanyak 4,8 juta ton.


Gerindra: Wacana Pembubaran Bulog Sarat Kepentingan Politik

"Impor beras 1 juta ton tersebut sama sekali tidak bisa dibenarkan. Dari amanat konstitusi bagaimana? Tujuan pembentukan negara adalah melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, termasuk kesejahteraan petani, bukan kesejahteraan petani asing, itu sangat jelas. Maka pemimpin seharusnya memahami tujuan dari bernegara, Menteri Perdagangan seharusnya paham," jelas Hasto.

Ia pun meningatakan agar Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi senafas dengan Presiden Jokowi untuk membeci produkluar.

"Lah ini menterinya siapa? Menteri itu pembantu Presiden. Menteri perdagangan membantu Presiden, sosok yang menguasai departemen atau kementerian yang dipimpinnya. Dalam menjalankan kebijakan politiknya, Menteri Perdagangan harus 1 nafas dengan Presiden," paparnya.

"Menteri Perdagangan ngotot impor pangan, ngotot impor beras, sementara dari data-data statistik beras kita cukup, ndak perlu impor," lanjutnya.

Klaim Pemerintahan Jokowi Paling Sukses, Ganjar Pranowo Singgung Paham Nyinyirisme

Halaman: 
Penulis : Trisna Susilowati
 
×
×