logo


Minta Kebijakan Tak Larang Mudik Dikaji Ulang, PKS: Angka Kematian Covid-19 Masih Tinggi

Netty mengingatkan bahwa kebijakan 3 T masih lemah.

18 Maret 2021 08:15 WIB

Wakil Ketua Fraksi PKS, Netty Prasetiyani
Wakil Ketua Fraksi PKS, Netty Prasetiyani Dok. PKS

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Anggota Komisi IX DPR dari Fraksi PKS, Netty Prasetiyani Aher meminta pemerintah mengkaji ulang terkait kebijakan tidak melarang mudik lebaran tahun 20201. Ia meminta pemerintah belajar dari pengalaman bahwa setiap libur panjang pasti ada lonjakan kasus Covid-19.

"Tidak adanya larangan mudik lebaran menimbulkan kekhawatiran terjadinya lonjakan kasus. Angka kasus baru COVID-19 di Indonesia masih tinggi, bahkan, angka kematiannya jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata dunia. Selain itu, pengalaman kita menunjukkan bahwa terjadi lonjakan kasus, setiap kali terjadi mobilitas masyarakat pada saat liburan panjang," kata Netty, dalam keterangan, Rabu (17/03/2021).

Meski kebijakan tak melarang mudik diklaim aman karena adanya protokol kesehatan. Namun Netty mengingatkan bahwa pelaksanaaan protokol kesehatan masyarakat masih lemah. Apalagi ditambah kebijakan 3 T yang dinilainya juga masih lemah.


Minta Patuh Prokes Usai Divaksin, Menkes: Kita Enggak Tiba-tiba Jadi Superman

"Kebijakan 3T sebagai salah satu cara dalam menyelesaikan COVID-19 masih lemah. Untuk ukuran Indonesia yang jumlah penduduknya sekitar 270 juta, seharusnya angka testing kita mencapai 200 - 300 ribu per hari. Kita harus belajar dari pengalaman India yang angka COVID-19-nya turun drastis akibat gencarnya testing yang mereka lakukan. Dengan kondisi masih lemahnya kebijakan 3T dan tingginya angka kematian, bagaimana mungkin pemerintah memberi kelonggaran mobilitas masyarakat melalui ketiadaan pelarangan mudik lebaran," ujarnya.

"Pertimbangkan kembali semua aspeknya. Jangan sampai kita menyesal di akhir. Program vaksinasi yang sedang berjalan jangan dijadikan dalih untuk merasa aman dan mengabaikan prokes serta pembatasan mobilitas penduduk. Apalagi realisasinya juga masih sangat rendah, yaitu baru sekitar 200 ribu dosis per hari, padahal target pemerintah satu juta dosis. Dan saat ini vaksinasi terkendala soal AstraZeneca yang diduga memiliki efek samping yang buruk sehingga penggunaannya ditunda pemerintah" pungkasnya.

Sepakat Tak Larang Mudik, Kang Emil: Saat Ini Teknologi Antigen Melimpah

Halaman: 
Penulis : Trisna Susilowati
 
×
×