logo


Angka Kelahiran Menurun, Korsel Hadapi Krisis Demografi Terburuk Sepanjang Sejarah

Angka kelahiran di Korea Selatan pada tahun 2020 lebih rendah daripada jumlah kematian, dimana hal tersebut menjadikan negara perekonomian terbesar keempat di Asia menghadapi krisis demografi terburuk

16 Maret 2021 13:30 WIB

Llyoo Chan-hee (depan), anak laki-laki usia sepuluh tahun yang tinggal di Pulau Nokdo, Korea Selatan
Llyoo Chan-hee (depan), anak laki-laki usia sepuluh tahun yang tinggal di Pulau Nokdo, Korea Selatan Reuters

SEOUL, JITUNEWS.COM - Jumlah populasi di Korea Selatan saat ini telah berada dalam titik terendah sepanjang sejarah berdirinya negara tersebut, dengan angka kelahiran yang semakin rendah, ditambah meningkatnya jumlah penduduk berusia diatas 60 tahun yang bahkan mencapai 24% dari total populasi.

Data yang dihimpun oleh media Yonhap menyatakan bahwa jumlah populasi total di salah satu negara dengan perekonomian terbesar di Asia tersebut kurang dari 52 jura jiwa pada Desember 2020 lalu, atau mengalami penurunan lebih dari 20 ribu dibanding tahun sebelumnya. Selama tahun 2020, tercatat jumlah kelahiran di Korea Selatan sebanyak 275.815, lebih rendah dari angka kematian yang mencapai 307.764.

Llyoo Chan-hee, bocah laki-laki usia 10 tahun yang tinggal di Pulau Nokdo, Korea Selatan, sangat berharap dapat memiliki teman bermain yang lebih banyak karena hanya ada tiga anak-anak yang tinggal di pulau tersebut.


Wabah Covid-19 Semakin Buruk, Menteri Kesehatan Brazil Diganti Lagi

"Pasti akan sangat senang jika saya memiliki lebih banyak teman disini karena saya dapat memiliki lebih banyak pilihan untuk bermain," kata Chan-hee kepada Reuters.

Chan-hee mengaku bahwa dirinya sering bermain bersama Kim Si-young, seorang kakek berusia 66 tahun, yang tinggal tak jauh dari rumahnya.

"Ia (Kim) selalu memanggil saya dan berbagi saat dirinya punya sesuatu yang lezat untuk dimakan," tambahnya.

Chan-hee dan Kim adalah dua dari seratusan penduduk yang tinggal di sebuah desa nelayan di Pulau Nokdo.

"Saya juga sering bermain bola dan badminton dengan Chan-hee, meskipun saya selalu kalah," kata Kim Si-young.

Dengan menatap sebuah album foto yang sudah mulai pudar, Kim mengingat kembali ratusan wajah penduduk dan ramainya pulau tersebut saat ia masih remaja. Setelah gelombang urbanisasi nasional terjadi dalam beberapa dekade terakhir, secara berangsur-angsur banyak warga yang mulai meninggalkan pulau tersebut untuk mencari penghasilan yang lebih baik di kota-kota besar. Bahkan, fasilitas sekolah di pulau tersebut juga sudah ditutup pada 2006 lalu karena kekurangan murid.

"Saya sangat sedih dan menangis (saat sekolah ditutup)," kata Kim.

"Saya ingin melindungi Nokdo, tapi hal ini membuat saya semakin putus asa melihat jumlah warga disini semakin berkurang," tambahnya.

Tren tersebut tentu saja menjadi sebuah tantangan besar bagi demografi Korea Selatan yang memaksa pemerintah harus turun tangan.

"Di tengah menurunnya angka kelahiran, pemerintah perlu mengambil langkah perubahan yang fundamental dalam (mengeluarkan) kebijakan-kebijakan yang relevan" kata Kementerian Dalam Negeri Korsel dalam sebuah pernyataan, dikutip The Guardian.

Presiden Moon Jae-in sendiri sebenarnya sudah mengeluarkan sejumlah kebijakan untuk mendukung peningkatan jumlah kelahiran, diantaranya dengan memberikan hadiah sebesar 1 juta won bagi wanita hamil serta memberikan tunjangan kepada anak-anak berusia kurang dari 12 tahun yang diberikan setiap bulan.

Jika tren seperti ini terus berlanjut, pemerintah memprediksi jumlah populasi Korea Selatan hanya sekitar 39 juta di tahun 2067 mendatang, dimana lebih dari 46% populasi berusia diatas 64 tahun.

"Banyak kota-kota kecil yang akan menghilang," kata pakar demografi Institut Riset Ekonomi Korea Choi One-Lack.

Sebut Latihan Perang AS-Korsel Bau Busuk, Adik Perempuan Kim Jong-un Cari Perhatian?

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia