logo


Nilai Tukar Mata Uang Hancur, Gelombang Kerusuhan Melanda Lebanon

Sejumlah aksi protes berujung kerusuhan terjadi di beberapa kawasan Lebanon pada akhir pekan lalu usai nilai mata uang negara tersebut menyentuh level terendahnya sebagai dampak dari krisis ekonomi dan politik.

15 Maret 2021 12:30 WIB

Aksi kerusuhan di Lebanon terjadi usai krisis ekonomi di negara tersebut semakin memburuk
Aksi kerusuhan di Lebanon terjadi usai krisis ekonomi di negara tersebut semakin memburuk RT.com

BEIRUT, JITUNEWS.COM - Aksi unjuk rasa berujung kerusuhan terjadi di sejumlah wilayah di Lebanon pada Sabtu (13/3) akhir pekan lalu usai nilai mata uang mereka jatuh ke titik terendah ditengah situasi krisis politik dan ekonomi yang mengancam stabilitas negara tersebut.

Nilai tukar mata uang Lebanon jatuh 85 persen dalam beberapa bulan terakhir dan mencapai titik terendah pada Sabtu, dimana hal itu membuat harga bahan pokok melambung tinggi.

"Kami kelaparan....Itu sebabnya kami ikut serta dalam aksi unjuk rasa ini," kata salah satu demonstran, dikutip RT.com.


AS Kirim Puluhan Truk Tangki Minyak dan Kendaraan Militer ke Suriah

Menteri Energi Lebanon Raymond Ghajar sebelumnya sudah memperingatkan bahwa jumlah anggaran pemerintah untuk membiayai pasokan energi listrik sudah mulai menipis sehingga negara tersebut kemungkinan akan mengalami pemadaman listrik secara nasional pada April mendatang.

Krisis yang terjadi di Lebanon sudah dimulai pada Oktober 2019 lalu dan semakin memburuk seiring dengan terjadinya konflik politik di negara tersebut. Situasi tersebut diperparah dengan menyebarnya virus Covid-19 sejak awal tahun 2020, dan insiden ledakan besar yang menghancurkan pelabuhan Beirut pada Agustus tahun lalu.

Pemerintah Perancis sebelumnya juga sudah berkomitmen untuk menyalurkan bantuan kepada Lebanon asalkan pemerintah Lebanon bersedia melakukan reformasi di dalam pemerintahannya.

Menteri Luar Negeri Perancis Jean-Yves Le Drian, yang memimpin program bantuan internasional untuk Lebanon juga memprediksi jika negara tersebut tidak lama lagi akan sepenuhnya kolaps.

"Saya sangat yakin jika saat ini belum terlalu terlambat, tapi kita kehabisan waktu sebelum terjadinya keruntuhan total," kata Le Drian pada Kamis pekan lalu.

 

Akun Facebook Kedubes China Dibombardir Komentar Negatif dari Warga Sipil Myanmar, Kenapa?

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia