logo


Militer Myanmar Sebut Aung San Suu Kyi Terlalu Dekat dengan China

Seorang lobbyist Myanmar menyebut para petinggi militer Myanmar sebenarnya ingin meningkatkan hubungan dengan negara barat dan menjaga jarak dengan China.

7 Maret 2021 17:30 WIB

Aung San Suu Kyi
Aung San Suu Kyi REUTERS

YANGON, JITUNEWS.COM - Seorang lobbyist yang disewa oleh pihak militer Myanmar mengatakan bahwa sejumlah jenderal bersedia meninggalkan politik usai aksi kudeta dan berupaya meningkatkan hubungan dengan negara barat serta AS, dan menjaga jarak dengan China.

Ari Ben-Menashe, seorang mantan intelijen militer Israel yang menjadi lobbyist pihak junta militer Myanmar mengatakan bahwa para petinggi militer juga berencana memulangkan etnis muslim Rohingya yang selama ini melarikan diri ke Bangladesh.

Dalam sebuah wawancara melalui sambungan telepon, Ben-Menashe mengatakan bahwa ia disewa oleh pihak militer Myanmar untuk membantu berkomunikasi dengan PBB dan negara-negara lain yang selama ini salah paham dengan militer Myanmar.


PM Inggris Sebut Pembukaan Sekolah adalah Langkah Pertama Menuju Kehidupan Normal

Ben juga mengatakan bahwa Aung San Suu Kyi, pemimpin de fakto Myanmar sejak 2016, selama ini cenderung terlalu dekat dengan China.

“Ada dorongan nyata untuk bergerak ke Barat dan Amerika Serikat daripada mencoba lebih dekat dengan China,” kata Ben-Menashe dikutip dari Reuters.

"Mereka (militer Myanmar) tidak ingin menjadi boneka China," tambahnya.

PBB sejauh ini mencatat bahwa jumlah warga sipil Myanmar yang menjadi korban tewas saat melakukan unjuk rasa menolak aksi kudeta militer sudah mencapai lebih dari 50 orang.

Pada Jumat kemarin, perwakilan khusus PBB mendesak Dewan Keamanan untuk mengambil tindakan atas junta militer Myanmar atas tindak kekerasan yang mereka lakukan terhadap para pendemo.

Pulih dari Pandemi, Sektor Ekspor China Sentuh Level Tertinggi dalam Dua Dekade Terakhir

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia