logo


Minta Militer Tembak Mati Pemberontak Komunis Filipina, Duterte: Lupakan soal HAM

Presiden Filipina Duterte menginstruksikan kepada pasukan militer dan Polisi Filipina untuk tak segan menembak mati para pemberontak komunis.

7 Maret 2021 15:45 WIB

Presiden Filipina Rodrigo Duterte
Presiden Filipina Rodrigo Duterte nypost

MANILA, JITUNEWS.COM - Presiden Filipina Rodrigo Duterte telah meminta kepada pihak militer dan kepolisian untuk tak segan-segan menembak mati semua anggota pemberontak komunis di Filipina.

"Saya sudah memberitahu militer dan polisi, jika mereka tengah berada di situasi baku tembak dengan pasukan komunis pemberontak, bunuh mereka. Pastikan anda sudah membunuh mereka dan habisi jika mereka masih hidup," kata Duterte pada Jumat (5/3) dalam pidatonya dikutip Al Jazeera.

"Hanya saja, pastikan juga anda mengembalikan jasad mereka kepada keluarganya," ujar Duterte.


Iran Siap Ajukan Rencana Konstruktif untuk Pembicaraan Isu Nuklir dengan Uni Eropa dan AS

"Lupakan soal HAM. Itu perintah saya. Saya bersedia dipenjara. Itu bukan masalah," tegasnya.

Duterte juga mengatakan bahwa paham komunisme tidak cocok dengan situasi perkembangan dunia modern. Ia menyebut bahwa China dan Rusia yang selama ini dikenal sebagai negara komunisme, sudah mengubah ideologi mereka menjadi kapitalis.

"Kalian semua (pemberontak komunis) adalah bandit," ujar Duterte.

"Kalian tidak punya ideologi. Bahkan China dan Rusia sudah menjadi negara kapitalis sekarang," lanjutnya.

Pada kesempatan tersebut, Duterte bahkan berjanji akan memberikan mereka lapangan pekerjaan dan tempat tinggal kepada pasukan pemberontak komunis jika mereka bersedia menyerah.

Pasukan pemberontak komunis Filipina diketahui sudah bertempur dengan pihak pemerintah sejak 1968 lalu. Menurut militer Filipina, pasukan pemberontak sudah menewaskan lebih dari 30 ribu rakyat Filipina selama 53 tahun terakhir.

Beberapa presiden Filipina selama ini juga mengalami kegagalan dalam mengupayakan kesepakatan damai dengan pasukan pemberontak pimpinan Jose Maria Sison yang kini melarikan diri ke Belanda.

Pakar Sebut 30 Ribu Entitas AS Jadi Korban Serangan Hacker China Beberapa Hari Terakhir

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia