logo


Keterlaluan, Bahkan Relawan Paramedis Juga Jadi Sasaran Tindak Kekerasan Militer Myanmar

Federasi Palang Merah Internasional meminta pihak militer Myanmar untuk menghentikan tindak kekerasan yang juga menyasar para relawan paramedis.

5 Maret 2021 21:14 WIB

Tim relawan paramedis yang membantu menangani korban aksi protes di Myanmar
Tim relawan paramedis yang membantu menangani korban aksi protes di Myanmar AFP

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Federasi Palang Merah Internasional (IFRC) pada Jumat (5/3) mengatakan bahwa banyak relawan paramedis yang terluka saat membantu korban kekerasan dalam aksi protes yang berlangsung di Myanmar sejak pihak militer melakukan aksi kudeta pada awal Februari lalu.

Menurut laporan PBB, sedikitnya ada 55 warga sipil Myanmar tewas akibat tindak kekerasan yang dilakukan oleh pihak militer dalam mengatasi gelombang aksi protes. Selain itu, lebih dari 1.700 orang juga sudah ditangkap, serta banyak warga masyarakat, termasuk relawan palang merah yang menjadi korban pemukulan oleh pasukan kepolisian.

"Ada sejumlah insiden serius yang terjadi dimana relawan palang merah terluka dan menjadi korban salah tangkap. Banyak mobil ambulan palang merah yang juga mengalami kerusakan," kata Direktur Palang Merah Internasional untuk wilayah Asia Pasifik, Alexander Matheou, dalam pernyataan tertulisnya dikutip Channel News Asia.


Dewan HAM PBB Minta Sanksi yang Lebih Berat untuk Militer Myanmar

Matheou menegaskan bahwa tim relawan paramedis telah menyediakan perawatan kepada orang-orang yang terluka sesuai dengan prinsip kemanusiaan, netralitas dan tidak berpihak.

"Relawan palang merah seharusnya tidak menjadi sasaran (kekerasan)," tambahnya.

"IFRC mendesak (pihak militer) untuk menghentikan tindak kekerasan di seluruh Myanmar," lanjutnya.

Militer Myanmar Sudah Coba Tarik Uang $ 1 Miliar dari AS Awal Februari Lalu

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia