logo


Militer Myanmar Lakukan Kekerasan terhadap Warga Sipil, Menlu Singapura: Memalukan

Menteri Luar Negeri Singapura mengatakan bahwa tindakan pasukan militer yang menggunakan senjata untuk melawan masyarakat sipil mereka adalah tindakan yang memalukan

5 Maret 2021 16:30 WIB

Seorang pendemo Myanmar yang tertembak oleh pasukan militer
Seorang pendemo Myanmar yang tertembak oleh pasukan militer nytimes

SINGAPURA, JITUNEWS.COM - Menteri Luar Negeri Singapura Vivian Balakrishnan, pada Jumat (5/3), meminta pihak militer Myanmar untuk mencari solusi damai dalam mengatasi gelombang aksi protes yang dilakukan oleh warga sipil. Ia mengatakan bahwa tindakan pasukan militer yang menggunakan senjata melawan masyarakat mereka sendiri adalah tindakan yang "mempermalukan negara".

"Ini merupakan tindakan memalukan bagi pasukan bersenjata untuk mengacungkan senjata mereka terhadap rakyatnya sendiri," kata Vivian, dikutip Reuters.

PBB juga sudah melaporkan bahwa sedikitnya 54 warga sipil tewas sejak aksi kudeta dilakukan oleh pihak militer 1 Februari lalu. Selain itu, pihak militer Myanmar juga sudah menangkap lebih dari 1.700 warga yang melakukan aksi protes dan 29 jurnalis yang melakukan peliputan.


Gunakan Tik Tok untuk Ancam Warga, Militer Myanmar: Saya Akan Menembak Kepala Anda

Balakrishnan dan para menteri luar negeri negara anggota ASEAN sudah menggelar pembicaraan dengan perwakilan junta militer Myanmar pada awal pekan ini, dimana ASEAN meminta militer Myanmar untuk segera membebaskan tokoh-tokoh politik dan pejabat pemerintahan yang mereka tangkap.

Balakrishnan juga mengatakan bahwa para menteri luar negeri ASEAN setiap harinya melakukan kontak satu sama lain guna membahas mengenai isu Myanmar.

Meski demikian, ia mengatakan bahwa upaya yang dilakukan oleh ASEAN kemungkinan tidak terlalu berampak terhadap situasi Myanmar.

"Jika Anda melihat selama 70 tahun terakhir, otoritas militer di Myanmar, terus terang, tidak menanggapi sanksi ekonomi, dan tidak menanggapi kebencian moral," tukasnya.

Daftar Lembaga Myanmar yang Dapat Sanksi dari AS Semakin Panjang

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia