logo


Dinilai Kerap Keluarkan Pernyataan Kontroversi, Pengamat: Jokowi Perlu Jubir dari Kalangan Komunikolog

Komunikolog Politik Nasional, Tamil Selvan mengatakan bahwa Presiden Jokowi perlu memiliki staff atau juru bicara dari kalangan Komunikolog.

5 Maret 2021 13:17 WIB

Presiden Joko Widodo
Presiden Joko Widodo presidenri.go.id

JAKARTA, JITUNEWS.COM- Baru-baru ini pernyataan Presiden Joko Widodo (Jokowi) menuai kontroversi soal UU Minuman Keras. Kini pernyataan Jokowi kembali menuai kontroversi, pasalnya Jokowi mengatakan agar mencintai produk dalam negeri, sekaligus dia juga mengajak agar membenci produk-produk luar negeri.

Menanggapi hal tersebut, Komunikolog Politik Nasional, Tamil Selvan mengatakan bahwa Presiden Jokowi perlu memiliki staff atau juru bicara dari kalangan Komunikolog.

Menurutnya hal ini dimaksudkan untuk mendesign diksi-diksi Presiden Jokowi kepada masyarakat agar tidak mengundang kegaduhan.


Soal KLB Partai Demokrat, Andi Arief: Jokowi Harusnya Bisa Bertindak

"Pemilihan tata bahasa itu penting. Saat ini saya lihat lending sektor Pak Jokowi dalam berwacana selalu mengundang kegaduhan, padahal maksud dan tujuannya baik. Saran saya Pak Jokowi berhemat dalam bicara, dan tunjuk juru bicara dari Kalangan Komunikolog," ungkap Ketua Forum Politik Indonesia ini kepada awak media, Jumat (5/3/2021).

Pria yang pernah menjabat sebagai tenaga ahli bidang politik di Partai Gerindra ini menyatakan bahwa ada sebagian social power yang selalu berseberangan dengan pandangan Jokowi dan hal ini tidak terlepas dari pemilihan Pilpres 2019.

"Ingat Pilpres 2019 ada 45% masyarakat yang tidak memilih Pak Jokowi. Social power ini sering ditunggangi untuk selalu bersikap apatis pada pandangan Pak Jokowi. Secara politik ini telah disiasati dengan mengandeng Pak Prabowo, namun secara Komunikasi pandangan seorang presiden perlu didesign sehingga memperkecil potensi penolakan di masyarakat, dan itu keahlian Komunikolog," tuturnya.

Tamil juga mengatakan bahwa perlu menggandeng influencer kelas satu yaitu para Ketua-ketua Partai politik dan Ketua Ormas Agama untuk membantu menyampaikan pandangan seorang presiden sehingga potensi penolakan dapat diperkecil.

"Posisi Pak Jokowi sebagai presiden saat ini tidak memiliki kharisma absolute power seperti Presiden Sukarno dan Suharto, sehingga perlu influencer kelas satu, yaitu mereka yang memimpin organisasi besar dan mempunyai loyalis yang jelas seperti ketua parpol dan ormas agama, sehingga lending sektornya aman dan potensi penolakan kecil," pungkasnya.

Soal Ajakannya untuk Benci Produk Asing, Jokowi: Gitu Aja Ramai

Halaman: 
Penulis : Khairul Anwar