logo


Israel Marah, Mahkamah Pidana Internasional Gelar Investigasi soal Penjahat Perang di Palestina

Mahkamah Pidana Internasional akan menggelar investigasi untuk mengungkap siapa yang selama ini melakukan tindak kejahatan perang di dalam wilayah Palestina

4 Maret 2021 19:45 WIB

Gaza
Gaza istimewa

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Mahkamah Pidana Internasional (ICC) pada Rabu (3/3) mengatakan bahwa mereka akan menggelar investigasi secara resmi terkait dugaan tindak kejahatan perang yang dilakukan oleh militer Israel di dalam wilayah Palestina. Keputusan tersebut disambut baik oleh pihak Palestina dan tentunya memicu kemarahan dari Israel.

"Keputusan untuk melakukan penyelidikan ini sudah diawali dengan pemeriksaan yang panjang yang dilakukan oleh kantor saya yang berlangsung hampir lima tahun," kata Jaksa Penuntut ICC Fatou Bensouda dalam sebuah pernyataan, dikutip Reuters.

Ia menambahkan bahwa investigasi ini akan dilakukan secara independen dan tidak melibatkan kedua pihak yang selama ini bertikai, yakni Palestina dan Israel.


Siap Hadapi Tekanan Internasional, Militer Myanmar: Kami Sudah Terbiasa dengan Sanksi

“Pada akhirnya, perhatian utama kami haruslah kepada para korban kejahatan perang, baik rakyat Palestina maupun Israel, yang menghadapi siklus panjang kekerasan dan ketidakamanan yang telah menyebabkan penderitaan dan keputusasaan yang mendalam di semua sisi,” tambahnya.

Bensouda, yang pada 16 Juni mendatang akan digantikan oleh jaksa penuntut asal Inggris, Karim Khan, pada Desember 2019 lalu mengatakan bahwa kejahatan perang telah atau pun sedang terjadi di wilayah Tepi Barat dan Jalur Gaza. Dia menyebut bahwa tindakan kejahatan perang tersebut kemungkinan dilakukan oleh Pasukan Pertahanan Israel ataupun kelompok bersenjata Palestina seperti Hamas.

Menanggapi hal tersebut, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan bahwa Mahkamah Pidana Internasional tidak bersikap adil. Ia menuding lembaga tersebut tutup mata atas kejahatan perang yang mungkin dilakukan oleh Iran, Suriah dan sejumlah negara lain, yang jauh lebih "nyata".

"Tanpa yurisdiksi, diputuskan bahwa tentara pemberani kami, yang mengambil setiap tindakan pencegahan untuk menghindari korban sipil terhadap teroris terburuk di dunia yang dengan sengaja menargetkan warga sipil, tentara kami lah yang mereka sebut sebagai penjahat perang, "kata Netanyahu dalam sebuah pernyataan.

Di sisi lain, keputusan Mahkamah Internasional tersebut disambut baik oleh kelompok militan Hamas yang selama ini dianggap sebagai kelompok teroris oleh Israel dan AS.

"Kami menyambut baik keputusan ICC untuk menyelidiki kejahatan perang yang dilakukan oleh pendudukan Israel terhadap rakyat kami. Ini adalah langkah maju untuk mencapai keadilan,” kata Hazem Qassem, juru bicara Hamas.

Perancis Kembali Minta Militer Myanmar Bebaskan Aung San Suu Kyi

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia