logo


Kelompok Pemberontak Houthis Sebut AS Tak Ingin Konflik Yaman Segera Berakhir

Amerika Serikat menjatuhkan sanksi terhadap dua petinggi kelompok pemberontak Houthis Yaman

3 Maret 2021 22:34 WIB

Juru bicara kelompok pemberontak Houthi, Mohammed Abdulsalam
Juru bicara kelompok pemberontak Houthi, Mohammed Abdulsalam reuters

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Kelompok pemberontak Yaman, Houthis, pada Rabu (3/3) menyebut bahwa sanksi AS terhadap dua komandannya adalah bukti bahwa AS berupaya memperpanjang konflik dan membuat krisis kemanusiaan di Yaman semakin memburuk. Hal tersebut disampaikan oleh Mohammed Abdulsalam, seorang juru bicara kelompok tersebut kepada stasiun TV al Masirah.

"Amerika mengutuk dirinya sendiri dan mengkonfirmasi bahwa mereka tidak berpikir mengenai penyelesaian agresi....dan (sanksi) itu menyebabkan semakin panjangnya perang dan krisis kemanusiaan yang semakin memburuk," katanya, dikutip Reuters.

Pada Selasa (2/3), Pemerintah Amerika Serikat telah menjatuhkan sanksi terhadap dua petinggi kelompok Houthi, yakni Mansur Al Sa'adi dan Ahmad Ali Ahsan al Hamzi.


Pengumuman, Hanya yang Sudah Disuntik Vaksin Covid-19 yang Diijinkan Ikut Ibadah Haji

"Individu-individu tersebut memberikan komando terhadap pasukan yang memperburuk situasi krisis di Yaman," kata Andrea Gacki, Direktur Pengendali Aset Asing Amerika Serikat.

Sementara itu, Kepala Program Bantuan PBB Mark Lowcock pada Januari lalu sudah meminta pemerintah Amerika Serikat untuk tidak memasukkan kelompok tersebut ke dalam daftar kelompok teroris. Menurut Lowcock, tindakan AS tersebut akan memperburuk situasi krisis pangan yang terjadi di negara Timur Tengah tersebut.

Jika AS benar-benar mem-blacklist kelompok Houthis, maka semua aset kelompok tersebut yang ada di Amerika Serikat akan dibekukan, serta melarang warga atau lembaga Amerika untuk berbisnis dengan mereka, serta akan menjatuhkan sanksi bagi yang melanggar ketentuan tersebut.

"Sejumlah supplier, bank, pihak pengiriman dan pihak penjamin tengah menghubungi rekan mereka yang ada di Yaman dan mengatakan bahwa saat ini mereka berencana untuk keluar dari Yaman," ujarnya.

"Mereka (akan) mengatakan bahwa resikonya terlalu tinggi, dan mereka takut terjebak dalam aturan Amerika Serikat," tegasnya.

Meski Sanksi AS dan Uni Eropa Tak Ada Artinya, Rusia Tetap Akan Lakukan Pembalasan

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia