logo


Iran Tolak Gelar Pembahasan Informal dengan Uni Eropa dan AS soal Perjanjian Nuklir

Iran menegaskan bahwa semua sanksi yang dijatuhkan oleh AS untuk dicabut terlebih dahulu sebelum mereka memulai pembicaraan mengenai upaya menegakkan kembali aturan perjanjian nuklir JCPOA.

1 Maret 2021 18:00 WIB

Ilustrasi
Ilustrasi Istimewa

TEHERAN, JITUNEWS.COM - Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan bahwa mereka tidak akan mengambil bagian dalam pertemuan informal dengan Uni Eropa dan AS mengenai upaya pemulihan kesepakatan nuklir Iran 2015 atau yang juga disebut sebagai Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA). Iran menegaskan bahwa sanksi yang dijatuhkan terhadap mereka harus dicabut terlebih dahulu sebelum memulai pembicaraan.

“Mempertimbangkan tindakan dan pernyataan baru-baru ini oleh AS dan tiga kekuatan Eropa, Iran tidak menganggap ini sebagai waktu yang tepat untuk mengadakan pertemuan informal dengan negara-negara tersebut, yang sebelumya diusulkan oleh kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Saeed Khatibzadeh, seperti dikutip oleh RT.com.

Pada Minggu (28/2), dua diplomat Barat mengatakan kepada Wall Street Journal bahwa Iran telah menolak undangan untuk menggelar pembicaraan langsung dalam beberapa hari mendatang.


Akun Medsosnya Diblokir, Trump Desak Pemerintah Hancurkan Praktek Monopoli Big Tech

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Uni Eropa Josep Borrell pada pekan lalu sudah meminta semua pihak untuk berupaya menghidupkan kembali perjanjian "penting" tersebut.

"Ini adalah kesempatan yang tidak bisa kami lewatkan," kata Borrell, usai Presiden AS Joe Biden menyatakan sangat ingin membawa AS kembali masuk ke dalam perjanjian nuklir Iran 2015.

Di sisi lain, Washington menegaskan bahwa mereka dapat mencabut sanksi atas Teheran jika Iran sudah kembali mematuhi aturan yang disepakati dalam perjanjian JCPOA itu.

Pada 2018, Iran mulai meningkatkan kadar uranium yang digunakan dalam fasilitas reaktor nuklir mereka usai Donald Trump secara sepihak membawa AS keluar dari JCPOA dan menjatuhkan kembali sanksi terhadap Teheran.

Minta Perdana Menterinya untuk Resign, Warga Armenia Ingin Wilayah Nagorno-Karabakh Direbut Kembali

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia