logo


Pengadilan Myanmar Kembali Jatuhkan Tuntutan atas Aung San Suu Kyi

Pemimpin Partai Liga Nasional untuk Demokrasi Myanmar, Aung San Suu Kyi dituduh telah melanggar sejumlah aturan hukum yang berlaku di Myanmar.

1 Maret 2021 15:00 WIB

Aung San Suu Kyi
Aung San Suu Kyi BBC.com

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Pengadilan tinggi Myanmar pada Senin (1/3) kembali menjatuhkan tuntutan kepada tokoh pemimpin pemerintahan yang pada awal bulan Februari lalu telah dilengserkan oleh pihak militer, Aung San Suu Kyi.

Dilansir dari Reuters, Senin (1/3), kuasa hukum Aung San Suu Kyi, Min Min Soe mengatakan bahwa kliennya tersebut saat ini masih terlihat dalam kondisi sehat dan mengikuti jalannya pembacaan putusan secara virtual. Ia mengatakan bahwa Suu Kyi juga telah meminta pihak pengadilan agar ia dapat dipertemukan dengan tim kuasa hukumnya.

Ketua Partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) tersebut diketahui sudah ditangkap dan ditahan oleh pihak militer Myanmar sehari sebelum aksi pengambil-alihan pemerintahan dilakukan pada 1 Februari lalu. Dalam aksi kudeta tersebut, pihak militer juga menangkap sejumlah tokoh pemerintahan Myanmar lainnya.


WHO Sebut Program Pendistribusian Vaksin Covid-19 bagi Negara Miskin Terancam Gagal

Suu Kyi sebelumnya juga sudah dijatuhi dua tuntutan, yakni kasus penyelundupan enam unit radio komunikasi (walkie-talkie) dan pelanggaran aturan protokol kesehatan Covid-19.

Min Min Soe mengatakan bahwa pada Senin (1/3) ini, Suu Kyi didakwa telah melanggar kode etik era kolonial yang melarang penyebaran informasi yang berpotensi menimbulkan ketakutan atau mengganggu ketenangan masyarakat.

Sebagaimana diketahui, Myanmar sudah berada di dalam kekacauan sejak pihak militer melakukan aksi kudeta pada awal Februari, usai menuding pemerintahan terpilih telah melakukan tindak kecurangan dalam proses penghitungan suara pemilu 2020 lalu.

Sementara itu, ribuan warga Myanmar terus melakukan aksi protes terhadap tindakan kekerasan pihak militer. Sejumlah saksi mata mengatakan bahwa dalam aksi protes yang digelar pada Senin (1/3) di kota Yangon, pihak petugas kepolisian telah menembakkan gas air mata untuk membubarkan demonstrasi.

Sejauh ini, belum ada laporan mengenai jumlah korban yang jatuh pada aksi protes berujung kerusuhan pada Senin. Namun, sehari sebelumnya, atau pada Minggu (28/1), petugas kepolisian diketahui terpaksa melepaskan tembakan untuk membubarkan aksi protes yang terjadi di sejumlah kota, dan menewaskan sedikitnya 18 orang.

"Sudah satu bulan sejak aksi kudeta (dilakukan). Mereka (militer) melakukan tindak kekerasan terhadap kami dengan penembakan kemarin. Kami akan turun ke jalan lagi hari ini," kata Ei Thinzar Maung, salah satu pendemo dalam postingan Facebooknya.

Perjalanan China Jadi Negara Perekonomian Terbesar Dunia Tak Akan Mudah

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia