logo


Meski Terlibat Sengketa Perbatasan, China Masih Jadi Rekan Dagang Terbesar India

Selama tahun 2020 lalu, perdagangan China-India secara keseluruhan mencapai $ 77,7 miliar

23 Februari 2021 17:30 WIB

Pelabuhan Shanghai, China
Pelabuhan Shanghai, China istimewa

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Upaya pemerintahan Perdana Menteri Narendra Modi untuk memutus hubungan perdagangan India dengan China, di tengah sengketa perbatasan 'berdarah' telah gagal memenuhi tujuan mereka. Pasalnya, negara perekonomian terbesar kedua di dunia itu mendapatkan kembali posisinya sebagai mitra dagang terbesar India untuk tahun 2020 lalu.

Dilansir dari Sputniknews, nilai perdagangan dua arah antara China dan India tahun lalu ditaksir mencapai $ 77,7 miliar, menjadikan Beijing mitra dagang terbesar di New Delhi selama periode tersebut. Hal tersebut terungkap dari data terbaru yang dirangkum oleh kementerian perdagangan India.

Menurut data, India masih sangat bergantung pada impor alat berat dan peralatan telekomunikasi dari China selama periode tersebut. Keseluruhan ekspor China ke India mencapai sekitar $ 58,7 miliar, lebih banyak daripada impor India dari AS dan Uni Emirat Arab (UEA), bahkan jika keduanya digabungkan. UEA sendiri adalah mitra dagang terbesar ketiga India.


Menlu Retno Minta Transisi Demokrasi Myanmar Harus Sesuai Keinginan Rakyatnya

Statistik baru juga menunjukkan bahwa perdagangan bilateral antara India dan AS, yang merupakan mitra dagang terbesar New Delhi pada 2019-20, mencapai $ 75,9 miliar.

Sementara perdagangan dua arah antara AS dan India pada 2019 hampir mencapai $ 88,75 miliar.

Bangkitnya kembali China sebagai mitra dagang terbesar India terjadi meskipun pemerintah Perdana Menteri Narendra Modi berupaya untuk mengurangi hubungan komersial dengan negara tetangganya tersebut, yang dipandang sebagai tindakan pembalasan New Delhi atas sengketa wilayah perbatasan yang dimulai pada Mei tahun lalu, serta bagian dari upaya untuk mengurangi ketergantungan ekonomi terhadap China.

India bahkan juga telah memblokir lebih dari 200 aplikasi China, termasuk aplikasi perpesanan WeChat dan aplikasi video pendek TikTok, sejak awal konflik pasukan militer kedua negara di wilayah timur Ladakh.

Sebelumnya, pada April tahun lalu, New Delhi juga merevisi aturan Penanaman Modal Asing (FDI) dimana mereka mewajibkan aliran dana dari China untuk mendapatkan persetujuan terlebih dahulu dari pemerintah India. Beijing menyebut kebijakan FDI baru New Delhi sebagai "diskriminatif" dengan alasan bahwa hal itu bertentangan dengan prinsip-prinsip Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

 

Banyak yang Belum Kebagian Vaksin Covid-19, AS Bakal Terima 240 Juta Dosis Akhir Maret Mendatang

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia