logo


Banjir Jakarta, TGUPP: Kritikan Kepada Anies Baswedan Kurang Relevan

Nursyahbani justru menyesalkan masih adanya ego sektoral dari instansi tertentu ketika berbicara soal penanganan banjir Jakarta.

22 Februari 2021 15:53 WIB

Banjir
Banjir Twitter @aniesbaswedan

JAKARTA, JITUNEWS.COM- Banjir yang terjadi di DKI Jakarta menuai sorotan dari banyak pihak. Sejumlah kalangan politikus menyesalkan pola penanganan banjir yang dilakukan gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

Anggota Tim Gubernur untuk Percepatan Pembangunan (TGUPP), Nursyahbani Katjasungkana menegaskan kritikan yang dialamatkan sejumlah pihak kepada gubernur Anies Baswedan terkait terjadinya banjir di sejumlah titik di Jakarta kurang relevan.

Menurutnya hal itu dikarenakan DKI Jakarta merupakan daerah yang saling terhubung dengan daerah lainnya.


Soal Banjir Jakarta dan BPBD DKI, Ahok Kesal : Kerja Lu Apa?

"Masalah banjir di Jakarta dan Jabotabek tidak sepenuhnya dibawah kontrol Gubernur kan, harus ada kebijakan dan gerak bersama dengan PUPR dan dinas terkait serta koordinasi dengan wilayah Jabotabek," ujarnya di Jakarta, Minggu (21/02/2021).

Nursyahbani justru menyesalkan masih adanya ego sektoral dari instansi tertentu ketika berbicara soal penanganan banjir Jakarta.

Misalnya saja, ungkap dia, ketika gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengajukan konsep naturalisasi sebagai ikhtiar meminimalisir banjir, justru dilain pihak dalam hal ini Kementerian PUPR menghendaki pola penanganan yang berbeda.

"Pendekatannnya saja tak bisa dikompromikan. Naturalisasi (Gub DKI) vs Betonisasi (PUPR/Basuki). Komen-komen PUPR malah seperti tak ikut menyebabkan banjir, lah proyek-proyek yang mangkrak di Jakarta dan sekitarnya termasuk juga KA cepat yang membabat lebuh dan hutan dan seterusnya," sindirnya.

Belum lagi dari segi geodesi, kata dia, penurunan tanah Jakarta atau Pantura secara umum bisa dikatakan jadi salahsatu faktor terjadinya berbagai bencana termasuk banjir saat ini.

"Kementerian Lingkungan Hidup juga tak melakukan penyelamatan lingkungan hidup dengan benar, membiarkan hutan terus digunduli yang akhirnya menyebabkan cuaca ekstrim di Indonesia," tandasnya.

Selain faktor-faktor tersebut, kata dia, kesadaran manusia juga menjadi faktor kunci terkait keseimbangan alam ini.

"Dari segi manusianya: belum ada kesadaran meluas bahwa bencana banjir ini buatan manusia. Jokowi misalnya, saat meninjau banjir KalSel, nyalahin curah hujan. Padahal hujan juga terkait dengan cuaca ekstrim karena perubahan iklim dan kebijakan yang mengobrak-obrak lingkungan hanya demi keuntungan dan keserakahan kaum kapitalis oligarki itu," sindirnya lagi.

Fenomena banjir Jakarta, jelas dia, bukan sesuatu yang ujug-ujug terjadi begitu saja.

"Banjir ini sudah berpuluh tahun lalu, dan terjadi dan terjadi lagi tiap tahun, tapi apa orang berhenti buang sampah sembarangan misalnya, atau membangun perumahan, perkebunan, menebangi hutan tanpa memperhatikan daya dukung lingkungan," pungkasnya.

Arteria: Mana Ahok, Enggak Kelihatan Tuh di Kemang Kerjanya

Halaman: 
Penulis : Khairul Anwar