logo


Meneropong Prospek Tambang Bawah Tanah

Selama 24 jam sekitar 2000 karyawan produksi bekerja dengan 3 shift selama seminggu

27 April 2015 17:44 WIB


JAKARTA, JITUNEWS.COM – Tidak lama lagi, PT Freeport Indonesia akan melakukan operasi penambangan bawah tanah, setelah penambangan terbuka di area Grassberg atau Grassberg Open Pit bakal habis di tahun 2015. Mereka akan bersiap untuk menambang di aera Deep Ore Zone (DOZ), Deep Mill Level Zone (DMLZ), Big Gossan dan Grassberg Block Cave (GBC). Selama 2 hari jurnalis Jitunews.com, Vicky Anggriawan dan Ali Imron Hamid berkesempatan untuk melihat langsung berbagai persiapan penambangan bawah tanah tersebut.

Sebelum melihat langsung area  penambangan bawah tanah itu, jurnalis terlebih dahulu harus menggunakan peralatan keselamatan (safety gear) seperti helm, kacamata (googles), rompi (vest), alat , senter yang dilekatkan di helm, tabung kecil oksigen dan juga sepatu boot. Suhu udara di dalam bawah tanah penambangan sangat dingin berkisar 16 derajat celcius jauh dari kesan bawah tanah yang sangat panas dan pengap.

Untuk dapat menuju ke lokasi penambangan yaitu ke tambang DOZ, kami menggunakan bis truk yang dapat menembus terowongan sepanjang 14 km dari mulut terowongan. Jalan yang dilalui cukup dilengkapi dengan sumber penerangan yang cukup meski beberapa titik area terlihat gelap. Jalan yang dilalui itu hanya cukup untuk satu kendaraan besar dan sengaja dibuat satu arah bukan dua arah. Jadi dengan jalan satu arah itu maka harus mau mengantri jika ada truk pengangkut lain yang akan melintas.


Peluang Ekspor Akar Gingseng Jepang (Gobo) Terbuka Lebar

Sepanjang perjalanan, kami disuguhkan dengan pemandangan bawah tanah dengan cahaya lampu temaram, dengan dinding berlapis semen tembak (shotcrete) dan atap hitam. Di dalam terowongan itu udara sangat dingin karena selain suasana pegunungan yang cukup dingin, ada kipas besar bertenaga 2000 tenaga kuda yang dapat menyaring udara kotor.

Anton Priyatna, salah satu Underground Engineering Freeport Indonesia menyebutkan bahwa lokasi tambang bawah tanah tidak pernah tidur. Selama 24 jam sekitar 2000 karyawan produksi bekerja dengan 3 shift selama seminggu. Kapasitas produksi tambang bawah tanah itu mencapai 80.000 ton ore per hari namun sekarang masih 60.000 ton per hari.

Hengky Rumbino, Vice President Underground Mine Operation Freeport mengatakan, cadangan tambang DOZ itu adalah 150 juta ton dengan kandungan 0,57 % adalah tembaga (Cu) dan kandungan emas (Au) sebesar 0,71 gram per ton. Produksi maksimum adalah mencapai 80.000 ton per hari. “Penambangan ini sudah dilakukan sejak tahun 2001 dan diorencanakan akan berakhir pada Desember 2020. Tenaga kerja yang dikerahkan mencapai 1400 orang,” katanya.

Sejauh ini sudah hampir 50 % PT Freeport menambang di aera DOZ tersebut dan sampai sekarang masih terus berlangsung. Lokasi berikutnya adalah penambangan bawah tanah Big Gossan. Di lokasi ini terdapat cadangan tembaga dan emas mencapai 56 juta ton dengan rincian sebesar 2,18% adalah kandungan tembagha dan 0,97 gram per ton adalah kandungan emas. Adapun kapasitas produksi maksimal mencapai 7000 ton per hari dan produksi saat ini sudah mencapai 2500 ton per hari. Big Gossan ini sudah mulai produksi sejak 2010 dan baru akan berakhir pada 2034.

Lokasi berikutnya yang juga bakal menjadi sasaran tambang bawah tanah adalah Deep Mill Level Zone (DMLZ). Untuk DMLZ ini merupakan lokasi baru yang akan mulai ditambang pada tahun ini. Rencananya baru akan dimulai pada September 2015 dan baru akan berakhir 2038. Adapun kapasiotasnya mencapai 80.000 ton per hari di tahun 2022 denngan kadar tembaga mencapai 0,83 % dan kadar emas 0,70 ppm. Biaya operasi penambangan sebesar US $ 8,62 ton dengan kebutuhan tenaga kerja mencapai  1800 orang.

“Untuk persiapan tambang di DMLZ ini adalah pembangunan terowongan 25 km per tahun dengan luas footprint 0,5 km persegi dengan panjang 1520 drawpoint. Biaya modal mencapai US $ 2,4 juta,” katanya.

Selanjutnya lokasi yang juga akan disiapkan di tahun 2017 adalah penambangan bawah tanah GBC (Grassberg Block Caving) dengan rencana produksi pada Juli 2017 sampai Desember 2040. Kapasitasnya mencapai 160 ktpd di tahun 2023. Kadar tembaga mencapai 1% dan kadar emas mencapai 0,76 ppm. Biaya operasi mencapai US $ 5,6 ton dengan tenaga kerja 2.450 orang.

“Untuk persiapan tambang dilakukan pembangunan terowongan mencapai 32 km per tahun dengan luas footprint 1 km persegi dengan 2416 drawpoint. Biaya modal US $ 4,7 juta,” katanya.

Dalam pembangunan GBC ini Freeport akan melengkapinya dengan pembangunan stasiun bawah tanah dengan panjang rel mencapao 353 meter dengan diameter 8,5 meter concrete linde. “Didalamnya nanti ada halte atau stasiun bawah tanah sebagai area transportasi barang dan orang,” katanya.

Menurut Anton, untuk terowongan bawah tanah yang dibangun Freeport itu panjangnya mencapai 450 km. “Bentuknya bertingkat-tingkat dan bila diluruskan jarak terowongan tersebut kira-kira sama dengan Jakarta ke Solo (Jawa Tengah),” katanya.  

Pembangunan terowongan tambang bawah tanah itu dilakukan oleh orang-orang Indonesia. Dan sebagian besarnya adalah putra daerah, Papua.

Melon Granat, Primadona Baru Buah Melon?

Halaman: 
Penulis : Vicky Anggriawan, Ali Hamid