logo


AS Tak Perlu Terjunkan Pasukan Militernya untuk Tangani Aksi Kudeta Pemerintahan Myanmar

Juru bicara Pentagon mengatakan bahwa AS tidak berencana untuk mengambil solusi militer untuk merespon aksi kudeta pemerintahan Myanmar

3 Februari 2021 21:00 WIB

Pentagon
Pentagon reuters

WASHINGTON, JITUNEWS.COM - Juru bicara Pentagon John Kirby mengatakan bahwa Kementerian Pertahanan AS kemungkinan tidak akan mengerahkan pasukan militernya untuk merespon aksi kudeta yang dilakukan oleh militer Myanmar.

"Untuk saat ini, saya tidak yakin apa yang tengah terjadi di sana (Myanmar) dibutuhkan sebuah solusi atau tindakan dari militer AS," kata Kirby kepada para wartawan, dikutip Sputniknews.

"Kita tentu saja sudah melihat dengan penuh kesiagaan mengenai apa yang terjadi di Myanmar, tapi saya tidak melihat diperlukannya peran militer AS untuk saat ini," tambahnya.


Ada Aliran Dana Senilai USD 350 Juta dari IMF ke Myanmar sebelum Aksi Kudeta Dilakukan

Pada Senin awal pekan ini, militer Myanmar mengambil alih pemerintahan setelah menangkap dan menahan sejumlah tokoh penting pemerintahan Myanmar, termasuk Aung San Suu Kyi. Militer Myanmar juga mengumumkan pemberlakuan status darurat nasional selama satu tahun di negara tersebut dan akan mengambil tindakan mengenai kecurangan yang terjadi dalam penghitungan suara pemilu Myanmar tahun lalu, yang dimenangkan oleh Partai Liga Nasional untuk Demokrasi.

Pihak militer Myanmar juga mengatakan bahwa mereka akan menggelar pemilu secara demokrasi saat status darurat nasional berakhir.

Sebelumnya, Presiden AS Joe Biden mengancam akan kembali menjatuhkan sanksi terhadap Myanmar jika pihak militer tidak segera membebaskan tokoh pejabat pemerintahan yang mereka tahan, dan segera mengakhiri kudeta tersebut.

Pakar Ekonomi Perkirakan Skotlandia Bakal Jadi Lebih Miskin Jika Keluar dari Persemakmuran Inggris

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia