logo


Perang Vaksin, Uni Eropa Desak AstraZeneca Segera Kirim Vaksin Covid-19 atau Digugat

Uni Eropa terpaksa menunda program vaksinasi Covid-19 karena pasokan vaksin dari sejumlah perusahaan biofarmasi terganggu masalah teknis

28 Januari 2021 13:28 WIB

vaksin Covid-19 AstraZeneca
vaksin Covid-19 AstraZeneca istimewa

BRUSSELS, JITUNEWS.COM - Komisi Uni Eropa mendesak perusahaan biofarmasi Astrazeneca untuk segera mengirimkan 75 juta dosis vaksin Covid-19 dan mengancam akan menggugat perusahaan tersebut hingga 300 juta Euro.

Uni Eropa mengatakan bahwa produsen obat asal Wales tersebut harus segera memperbaiki kurangnya kapasitas produksi di dua pabriknya yang berada di daratan Eropa yang sejauh ini baru mengirimkan dua puluh lima persen dari total 100 juta dosis yang dipesan oleh Uni Eropa.

"Jika fasilitas (AstraZeneca) yang ada di Inggris bekerja dengan lebih baik, apakah kami juga berharap mereka untuk mengirimkan dosis (vaksin) tersebut kepada Uni Eropa? Ya, tentu saja," kata seorang juru bicara Komisi Uni Eropa kepada Daily Telegraph.


Korsel dan AS Sepakat Tingkatkan Kerja Sama terkait Isu Denuklirisasi Korea Utara

Juru bicara Komisi Uni Eropa yang tidak disebut namanya tersebut juga mengatakan bahwa mereka telah menanamkan investasi kepada perusahaan tersebut dalam program pengembangan vaksin COvid-19, dimana proses penelitiannya melibatkan Universitas Oxford Inggris. Oleh karena itu, jika permintaan pengiriman pasokan vaksin tersebut tidak segera dipenuhi, maka pihaknya akan menuntut ganti rugi sebesar 300 juta Euro atau sekitar 265 juta poundsterling.

Sementara itu, dalam sebuah wawancara dengan media Italia, La Republica pada Selasa (26/1), CEO AstraZeneca Pascal Soriot mengatakan bahwa penundaan pengiriman vaksin Covid-19 terjadi karena pihaknya saat ini tengah berupaya meningkatkan skala produksi vaksin Covid-19 di dua pabriknya yang berlokasi di Belgia dan Belanda.

Ia juga berharap dapat mengirimkan lebih banyak dosis dalam "kuantitas yang masuk akal" kepada Uni Eropa pada Februari mendatang.

"Tim kami bekerja 24 jam selama 7 hari untuk memperbaiki permasalahan produksi vaksin," kata Soriot.

Soriot menekankan bahwa pihaknya memasang harga yang murah untuk dosis vaksin COvid-19 mereka, dan membantah tuduhan yang menyebut mereka menjual vaksin tersebut dengan harga yang lebih mahal kepada Uni Eropa, dibanding dengan Inggris.

"Kami melakukannya bukan karena keuntungan...kami tidak mencoba membuatnya (vaksin Covid-19) untuk uang atau tujuan lainnya. Saya sangat meyakini jika kami sudah memperlakukan Uni Eropa secara fair," tegasnya.

Joe Biden Bakal Tunda Rencana Penjualan Alutsista AS ke Luar Negeri

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia