logo


Terkait Insiden Gedung Capitol, DPR AS Minta FBI Investigasi Media Sosial Parler

DPR AS mencurigai aplikasi Parler juga ikut berperan dalam tindak kekerasan yang terjadi pada insiden penyerangan Gedung Capitol oleh massa pendukung Trump pada 6 Januari lalu.

22 Januari 2021 14:26 WIB

Ilustrasi anggota FBI
Ilustrasi anggota FBI istimewa

WASHINGTON, JITUNEWS.COM - Komisi DPR AS untuk Pengawasan meminta FBI untuk melakukan investigasi terhadap keterlibatan aplikasi Parler dalam insiden penyerbuan Gedung Capitol pada Rabu (6/1) yang dilakukan oleh massa simpatisan Donald Trump. Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Komisi Carolyn Maloney dalam sebuah surat yang ia kirimkan kepada Direktur FBI Christopher Wray.

Selain itu, Maloney mengatakan bahwa pihaknya juga akan menggelar proses investigasi serupa terhadap platform media sosial tersebut.

"Saya akan menggali sampai ke dasar terkait siapa pemilik dan pihak mana yang mendanai platform-platform media sosial semacam Parler yang membiarkan dan memicu tindak kekerasan," kata Maloney dalam sebuah wawancara dengan the Washington Post.


Keluarkan Perintah Eksekutif untuk Tangani Krisis Covid-19, Biden: Kita dalam Situasi Darurat Nasional

Pada bulan November 2020 lalu, the Wall Street Journal melaporkan bahwa Parler telah menerima dukungan finansial dari Robert Mercer dan putrinya, Rebekah. Keluarga Mercer sendiri dikenal sering mendanai organisasi dan pergerakan kaum konservatif, salah satunya Cmabridge Analytica.

Dalam suratnya kepada Kepala FBI tersebut, Maloney juga mengutip sejumlah laporan yang mengabarkan bahwa sejumlah pengguna aplikasi Parler telah diamankan oleh pihak kepolisian dan didakwa telah "mengancam dengan tindak kekerasan terhadap pejabat pemerintah" serta mengorganisir massa untuk melakukan aksi protes melalui akun media sosial tersebut.

Pasca insiden Gedung Capitol, aplikasi Parler sudah diblokir oleh Google dan Apple dalam app store-nya, dan dipaksa offline setelah sejumlah penyedia layanan websites menolak memberikan layanan kepada mereka.

Mayoritas Warga AS Sebut Donald Trump Presiden Terburuk dalam 50 Tahun Terakhir

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia