logo


Tesia Jawa si Endemik Yang Hidup di Semak

Burung yang termasuk sangat aktif dan lincah ini ternyata sangat rentan terhadap cuaca panas

24 April 2015 11:40 WIB

 Sekilas, suara tesia jawa lebih mirip dengan burung pare-pare atau cikrak daun. FOTO: ISTIMEWA
Sekilas, suara tesia jawa lebih mirip dengan burung pare-pare atau cikrak daun. FOTO: ISTIMEWA

JAKARTA JITUNEWS.COM - Tesia jawa hanya ditemukan di wilayah tengah dan barat Pulau Jawa. Burung ini sebenarnya masih memiliki hubungan kekerabatan dengan burung perenjak. Ciri khasnya adalah bulu ekornya sangat pendek. Postur tubuh juga super imut, dengan panjang hanya  7 cm.

Bulu tubuh bagian atas berwarna zaitun keabu-abuan, kepala kehitaman dengan alis mata abu-abu pucat. Bulu tubuh bagian bawah berwarna abu-abu keputihan. Iris mata berwarna cokelat. Paruh bagian atas juga cokelat, sedenglan paruh bawah kuning. Kedua kakinya lumayan panjang, dan berwarna cokelat.

Tesia jawa pada umumnya hidup di dalam semak-semak yang sangat rimbun, sehingga sedikit sekali terkena sinar matahari. Di Jawa Tengah, burung ini masih bisa dijumpai di lereng selatan Taman Nasional Gunung Merapi. Di Jawa Barat bisa ditemukan di Gunung Halimun, Gunung Salak, Gunung Papandayan, Gunung Ciremay, dan  Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.


NasDem Minta Pemerintah Perhatikan Petani Ternak Sapi Perah

Burung yang termasuk sangat aktif dan lincah ini ternyata sangat rentan terhadap cuaca panas. Hal ini sejalan dengan kebiasaannya yang hidup di semak-semak yang sangat rimbun dan sedikit terkena sinar matahari. Oleh karena itu, dalam perawatan harian sebaiknya jangan menjemur burung dalam waktu lama / panjang.

Pada sisi lain, tesia jawa justru sangat menyukai mandi. Anda mesti memperhatikan wadah air minumnya. Jika terlalu cepat kotor, berarti sudah digunakan burung untuk mandi, sehingga harus segera diganti dengan air baru yang bersih.

Suara kicauan tesia jawa sangat merdu, yang terdiri atas beberapa nada cepat dan bervariasi. Sekilas, suaranya lebih mirip dengan suara kicauan dari burung pare-pare atau cikrak daun. Makanan utamanya adalah serangga kecil seperti ulat. Jika dipelihara dalam sangkar, pakan yang bisa diberikan adalah 2 sendok teh kroto, serta jangkrik dan ulat kandang berukuran kecil.

 

Jajaki Bisnis Peternakan, Mayjen (Purn) Suharno Belajar Hingga ke Negeri Orang

Halaman: 
Penulis : Agung Rahmadsyah, Riana