logo


Pandemi Covid-19, Digitalisasi Jadi Penyelamat bagi UMKM, Petani dan Pedagang

Pandemi Covid-19 memaksa transformasi itu menjadi lebih cepat.

20 Januari 2021 22:31 WIB

Founder Institute for Social, Economic, and Digital (ISED), Sri Adiningsih
Founder Institute for Social, Economic, and Digital (ISED), Sri Adiningsih Dok. Jitunews/Khairul Anwar

JAKARTA, JITUNEWS.COM – Kebijakan pemerintah dalam menangkal penularan Covid-19 mengharuskan banyak pihak untuk mengalihkan pertemuan tatap muka ke daring (online). Oleh karena itu, transformasi pemanfaatan teknologi digital menjadi salah satu kunci untuk menekan dampak pandemi.

Pendiri Institute of Social Economic Digital (ISED), Prof Sri Adiningsih mengatakan pandemi Covid-19 mendorong transformasi digital di Indonesia lebih cepat dari perkiraan awal, yakni sekitar 10 tahun lagi.

"Dengan elektrifikasi dan internet yang semakin merata, digitalisasi menjadi penyelamat bagi UMKM, petani, pedagang, dan lainnya sehingga bisa memasarkan produknya melalui online. Artinya, ada sisi positif yang bisa didapat dari pandemi ini," kata Sri webinar bertajuk Indonesia Digital Outlook 2021 yang digelar ISED, Rabu (20/1).


Belum Juga Turun, PPKM Jawa-Bali Diperpanjang 2 Pekan Lagi

Sri memaparkan, digitalisasi turut berperan dalam menciptakan banyak lapangan kerja, terutama di kalangan bawah, termasuk kalangan milenial. Berdasarkan catatannya, ada sekitar 140-an asosiasi e-commerce Indonesia. Selain itu, dalam survei ISED 2020, sebanyak lebih dari 74% masyarakat senang kerja dari rumah dan kantor secara fleksibel.

"Artinya, digitalisasi di saat pandemi ini menarik sekali. Makanya, pemanfaatan teknologi digital harus terus ditumbuhkan ke depannya karena digitalisasi bisa memberikan banyak manfaat bagi semua orang, pelaku usaha, dan lainnya," jelasnya.

Terkait kemajuan teknologi digital, ISED mengingatkan pemerintah tentang perlunya regulasi keamanan data pribadi, khususnya Rancangan Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi (RUU PDP).

Selain Sri Adiningsih, adapun pembicara lain, seperti Arif Budimanta (Staf Khusus Presiden), Danny Ardianto (Google Indonesia), Dianta A Sebayang (Dewan Pakar ISED), Daniel Rembeth (pemerhati medsos), dan Yosi Mokalu (Ketua Umum Siberkreasi).

Menurut Staf Khusus Presiden RI, Arif Budimanta, akses digital harus merata dalam rangka meningkatkan kesejahteraan bersama. Dia menyebut pemerintah saat ini terus berupaya mendorong percepatan transformasi digital dalam berbagai kelembagaan hingga pelayanan publik.

Dia menambahkan, pengembangan transformasi digital sudah termasuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024.

Arif menjelaskan, ada tujuh agenda pembangunan yang menjadi fokus pemerintah. Dua di antaranya yaitu memperkuat ketahanan ekonomi untuk pertumbuhan yang berkualitas dan berkeadilan serta memperkuat infrastruktur untuk mendukung pengembangan ekonomi dan pelayanan dasar.

Sementara penguatan infrastruktur, ditempuh melalui berbagai cara, salah satunya melalui pembangunan dan pemanfaatan infrastruktur untuk transformasi digital.

Menurut Arif, kontribusi ekonomi digital ditargetkan meningkat dari 2,9% menjadi menjadi 4,7% pada 2024. Pertumbuhan PDB di sektor informasi dan telekomunikasi juga diharapkan naik dari 9,3% menjadi 11%.

"Digitalisasi ini sangat penting. Karena itu pemerintah terus mengembangkan wilayah melalui dukungan infrastruktur untuk mengurangi kesenjangan dan menjamin pemerataan. Selain itu, digitalisasi ini dibutuhkan untuk meningkatkan sumber daya manusia (SDM) sehingga berkualitas dan berdaya saing," tuntasnya.

Airlangga Sempat Positif Covid-19, Moeldoko: Cukup Beberapa Orang yang Tahu

Halaman: 
Penulis : Iskandar