logo


Turki Tak Akan Minta Ijin kepada AS terkait Pengiriman Kedua Sistem Pertahanan Buatan Rusia

Erdogan mengatakan bahwa pihaknya akan membahas mengenai pengiriman kedua sistem pertahanan udara S-400 dengan Rusia pada akhir bulan ini.

16 Januari 2021 09:40 WIB

Presiden Turki Reccep Erdogan
Presiden Turki Reccep Erdogan istimewa

ISTANBUL, JITUNEWS.COM - Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada Jumat (15/1) menegaskan kembali bahwa pihaknya tidak akan meminta ijin kepada AS terkait pembelian sistem pertahanan udara buatan Rusia, S-400. Ia menambahkan bahwa Turki berencana untuk melakukan pembahasan mengenai pengiriman kedua sistem pertahanan udara tersebut dengan pemerintah Rusia pada akhir bulan ini.

"Tidak ada negara yang akan mengganggu kebijakan pertahanan nasional kami...Permasalahan soal pengiriman pertama S-400 sudah ditutup, pengiriman kedua saat ini masih dalam tahap pembahasan. Pada akhir bulan ini, kami akan membicarakannya dengan Rusia terkait hal tersebut dan isu-isu lainnya," kata Erdogan kepada wartawan di Istanbul, dikutip Sputniknews.

Meski demikian, Erdogan juga mengatakan bahwa pembahasan mengenai sistem pertahanan S-400 juga akan ia lakukan dengan pemerintah Amerika Serikat setelah Joe Biden dilantik secara resmi menggantikan Donald Trump sebagai presiden.


Pendukung Trump yang Bikin Onar di Gedung Capitol Didanai oleh Seseorang dari Perancis

"Saya tidak tahu apa yang Biden akan katakan, tapi apapun itu, kami tidak akan meminta ijin dari siapapun," tambah Erdogan.

Pada tahun 2019 lalu, Turki telah menerima pengiriman pertama sistem pertahanan udara tersebut dari Rusia. Hal tersebut memicu kecaman dari pihak Amerika Serikat.

Pemerintah AS mendesak Turki membatalkan kesepakatannya dengan Rusia, dan menawarkan sistem pertahanan Patriot sebagai gantinya. AS bahkan mengancam akan membatalkan pengiriman pesawat tempur F-35 dan menjatuhkan sanksi terhadap Turki, yang merupakan salah satu anggota NATO. Tapi mengapa demikian?

Amerika Serikat mengklaim sistem pertahanan S-400 tersebut tidak sesuai dengan standar NATO dan berpotensi menyebabkan resiko keamanan. Klaim tersebut tentu saja dibantah oleh Turki dan Rusia.

 

Varian Baru Covid-19 Inggris Masuk ke Filipina, Kedatangan Internasional Diblokir

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia
 
×
×