logo


Hadapi Kebangkitan Ekonomi China, CEO Siemens Sebut Dunia Perlu Tatanan Perdagangan Global Baru

CEO Siemens mengatakan bahwa perusahaan yang bermain dalam bisnis internasional perlu menyesuaikan diri dengan perkembangan situasi politik, ekonomi dan teknologi

15 Januari 2021 14:18 WIB

CEO Siemens, Joe Kaeser
CEO Siemens, Joe Kaeser istimewa

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Presiden sekaligus CEO Siemens, Joe Kaeser mengatakan bahwa China merupakan salah satu pasar terpenting bagi semua pihak yang bermain dalam bisnis internasional. Hal tersebut ia sampaikan dalam sebuah diskusi yang digelar secara online oleh Reuters.

"Pertanyaannya adalah "Bagamaimana nantinya sebuah perekonomian (seperti China) menangani kepentingan strategis suplai energi mereka? Karena jelas, energi adalah infrastruktur vital, seperti halnya telekomunikasi. Akankah anda menjadikan diri anda tergantung pada penyedia pihak ketiga dalam hal infrastruktur vital?" katanya.

Ia menambahkan bahwa Amerika Serikat, Uni Eropa dan China akan saling terkait dan menjadi fokus utama pasar internasional dalam beberapa tahun mendatang, dengan analisa yang menyebutkan jika China akan memimpin perekonomian dunia pada 2035.


Penasihat Kesehatan Inggris Sebut Varian Baru Covid-19 dari Brazil Bisa Turunkan Efektivitas Vaksin

Pada kesempatan tersebut, Kaeser juga memperingatkan bahwa akan ada perubahan besar dalam kebijakan internasional AS terhadap China dibawah kepemimpinan Joe Biden, untuk mempertahankan statusnya sebagai negara dengan perekonomian terkuat di dunia.

Meski demikian, ia mengatakan bahwa dunia tidak hanya terdiri dari China, Uni Eropa dan AS saja. Ia menambahkan bahwa Uni Eropa juga perlu membangun sebuah kebijakan perekonomian yang disatukan guna mencapai tingkatan kesatuan yang diperlukan untuk membuat "aturan kesepakatan global".

Saat ditanya bagaimana perusahaan seperti Siemens dapat bekerja sama dengan China dalam hal pengembangan teknologi untuk memulai kembali perekonomian global, Kaeser mengatakan bahwa sangat penting bagi perusahaan untuk memenuhi permintaan dan pasar lokal.

"Itu nyata bagi China, AS dan semua wilayah. Satu-satunya jalan bagi perusahaan global untuk menghadapi buruknya situasi politik, ekonomi, atau teknolgi adalah dengan lokalisasi," tambahnya.

Namun, dengan berfokus pada pasar domestik, hal tersebut membuat bisnis internasional menjadi sangat tidak efektif, lanjutnya, perusahaan dapat melakukan lokalisasi namun tetap kurang begitu berhasil, contohnya perusahaan ekspor-impor dari negara seperti Jerman dan Uni Eropa lainnya.

 

Tak Semua Orang Mau Jadi Presiden, Anak Perempuan Duterte: Saya Salah Satunya

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia