logo


Terkait Kerja Paksa Muslim Uyghur, AS Blokir Impor Kapas dan Tomat dari Xinjiang

Otoritas AS memutuskan untuk menghentikan impor sejumlah komoditas asal Xinjiang, China, karena diyakini sebagai hasil kerja paksa muslim Uyghur

14 Januari 2021 16:30 WIB

Kapal Kargo
Kapal Kargo istimewa

WASHINGTON, JITUNEWS.COM - Pemerintah Amerika Serikat pada Rabu (13/1) mengumumkan bahwa pihaknya akan menghentikan impor sejumlah komoditas yang berasal dari wilayah provinsi Xinjiang, China.

Sejumlah pejabat dari Bea Cukai AS (CBP) mengatakan bahwa mereka akan menghentikan impor kapas dan tomat, serta komoditas lain dari wilayah China tersebut karena diduga merupakan produk hasil dari kerja paksa muslim Uyghur.

Menurut Brenda Smith, salah satu pejabat CBP mengatakan bahwa nilai impor AS untuk komoditas kapas dari China pada tahun 2020 lalu secara keseluruhan mencapai USD 9 miliar. Itu belum termasuk produk-produk dari negara lainnya. Sementara untuk komoditas tomat, nilai impor AS ke China hanya mencapai USD 10 juta.


Kebijakan Lockdown Berhasil Tekan Peningkatan Kasus Covid-19 di Inggris

Brenda juga mengatakan bahwa pada bulan November 2020 lalu, pemerintah AS juga memblokir produk kapas dari sebuah produsen kapas terbesar di wilayah Xinjiang China dengan kapasitas produksi mencapai 6 persen kapas dunia. Dengan kebijakan tersebut, CBP, pada waktu itu menghentikan 43 kapal kargo dan melarangnya memasuki wilayah AS. Nilai komoditas yang diangkut oleh puluhan kapal kargo tersebut diperkirakan mencapai USD 2 miliar.

"Tujuan utamanya adalah agar China menghentikan praktek yang kejam mereka (terhadap muslim Uyghur)," kata Ken Churchill, wakil sekertaris Kementerian Keamanan Nasional AS, dikutip CNA.

Sementara itu, China membantah tuduhan tersebut dan meminta pihak asing untuk tidak mengintervensi urusan dalam negeri mereka.

Juru bicara pemerintah China Zhao Lijian menegaskan bahwa orang-orang di Xinjiang secara sukarela menandatangani kontrak dimana mereka juga telah mendapatkan bayaran.

"Yang disebut sebagai kerja paksa tidak lain hanyalah sebuah kebohongan yang dibuat oleh sejumlah institusi dan individu di negara-negara barat," kata juru bicara tersebut dalam konferensi pers.

Terpengaruh Kepentingan Politik, Pakar Kesehatan Minta WHO Reformasi

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia