logo


Kepala Program Bantuan PBB Desak AS Tak Blacklist Kelompok Houthis Yaman

Mark Lowcock mengatakan bahwa jika AS benar-benar melabeli kelompok Houthis sebagai organisasi teroris dan memasukkan mereka ke daftar hitam, maka krisis pangan yang terjadi di Yaman akan semakin memburuk.

14 Januari 2021 13:17 WIB

Sidang Dewan Keamanan PBB
Sidang Dewan Keamanan PBB Al Jazeera

NEW YORK, JITUNEWS.COM - Kepala Program Bantuan PBB Mark Lowcock mendesak pemerintah Amerika Serikat untuk membatalkan keputusan mereka memasukkan kelompok militan Yaman, Houthis, dalam daftar organisasi teroris. Menurut Lowcock, tindakan AS tersebut akan memperburuk situasi krisis pangan yang terjadi di negara Timur Tengah tersebut.

Pada Minggu (10/1), Menteri Luar negeri AS Mike Pompeo mengumumkan bahwa pihaknya akan memasukkan Houthis dalam daftar hitam mereka pada 19 Januari mendatang. Pompeo menilai kelompok militan tersebut mendapat dukungan dari Iran.

Dalam sebuah pernyataan tertulisnya yang akan ia sampaikan dalam rapat Dewan Keamanan PBB pada Kamis (14/1), Lowcock berencana untuk memberitahu kelima belas negara anggota bahwa rencana AS tersebut akan menjadi penghalang bagi penyaluran bantuan kemanusiaan ke Yaman. Ia khawatir jika tindakan AS tersebut akan menyebabkan sebuah krisis kelaparan terburuk dalam beberapa dekade terakhir.


Efektifitas Vaksin Sinovac Hanya 50,4 Persen dalam Uji Coba di Brazil

"Apa yang akan mencegah (krisis) itu (memburuk)? Pembatalan keputusan (AS)," tulis Lowcock dikutip Reuters. "Badan penyalur bantuan tidak dapat begitu saja menggantikan sistem impor komersial (Yaman)," tambahnya.

"Data menunjukkan bahwa 16 juta orang (Yaman) akan kelaparan di tahun ini. Saat ini, sekitar 50 ribu orang sudah sangat kelaparan dalam wabah kelaparan "kecil". Sementara 5 juta lainnya hanya berada satu langkah dibelakang mereka," lanjut Lowcock.

Meski PBB dapat membantu sepertiga dari 28 juta total populasi Yaman, namun perdagangan impor adalah kunci untuk memastikan jutaan rakyat Yaman lainnya memiliki akses bahan makanan.

"90 persen impor Yaman adalah bahan pangan. Hampir semua bahan pangan dibeli melalui channel komersial. Badan bantuan (hanya) memberikan warga uang atau voucher untuk membeli bahan makanan impor yang tersedia di pasar," lanjutnya.

Jika AS benar-benar mem-blacklist kelompok Houthis, maka semua aset kelompok tersebut yang ada di Amerika Serikat akan dibekukan, serta melarang warga atau lembaga Amerika untuk berbisnis dengan mereka, serta akan menjatuhkan sanksi bagi yang melanggar ketentuan tersebut.

"Sejumlah supplier, bank, pihak pengiriman dan pihak penjamin tengah menghubungi rekan mereka yang ada di Yaman dan mengatakan bahwa saat ini mereka berencana untuk keluar dari Yaman," ujarnya.

"Mereka (akan) mengatakan bahwa resikonya terlalu tinggi, dan mereka takut terjebak dalam aturan Amerika Serikat," tegasnya.

Tak Takut Jadi Target Serangan Pemerintah Rusia, Navalny Segera Pulang ke Moskow

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia