logo


Dalam Persidangan, Napoleon Bonaparte Ungkap Beberapa Kebohongan Tommy Sumardi

Hal itu disampaikan Irjen Pol Napoleon seusai persidangan mendengar keterangan saksi Tommy Sumardi dalam persidangan di Pengadilan Tipikor, Senin malam (4/1/2021).

7 Januari 2021 09:57 WIB

Tommy Sumardi tengah membaca doa saat hari ulang tahun Kabareskrim Komjen Pol Listyo Sigit Prabowo
Tommy Sumardi tengah membaca doa saat hari ulang tahun Kabareskrim Komjen Pol Listyo Sigit Prabowo Istimewa

JAKARTA, JITUNEWS.COM- Keterangan Tommy Sumardi yang dipakai penuntut umum untuk mendakwakan Irjen Pol Napoleon Bonaparte dinilai keterangan palsu.

Hal itu disampaikan Irjen Pol Napoleon seusai persidangan mendengar keterangan saksi Tommy Sumardi dalam persidangan di Pengadilan Tipikor, Senin malam (4/1/2021).

Dia menyebut keterangan bohong diantaranya soal adanya pertemuan dirinya dengan Tommy Sumardi dan so tidak adanya pertemuan Tommy Sumardi dengan Kabareskrim Komjen Pol Listyo Sigit Prabowo.


Andi Irfan Tersangka Baru dalam Kasus DjokTjan, DPR: Masih Ada Pihak Lain yang Terlibat

Menurutnya sesuai keterangan saksi-saksi yang saling berkesesuaian, dihubungkan dengan alat bukti petunjuk rekaman CCTV, pernyataan Tommy Sumardi di depan persidangan, yang menuduh Terdakwa Irjen Pol Napoleon Bonaparte telah menerima uang secara bertahap sebesar SG$200 ribu dan US$270 ribu untuk pengurusan red notice atas nama Djoko Soegiarto Tjandra, merupakan serangkaian kebohongan dan keterangan palsu.

“Terungkapnya keterangan palsu Saksi Tommy Sumardi di depan persidangan, telah menghancurkan bangunan skenario rekayasa kasus (legal engineering) yang disusun selama penyidikan, sekaligus mematahkan dakwaan Jaksa Penuntut Umum, yang secara sengaja menelan mentah-mentah keterangan palsu Tommy Sumardi dalam penyidikan,” tambah Napoleon.

“Rangkaian kebohongan yang dilakukan saksi Tommy Sumardi, yang antara pelbagai kebohongan itu, terdapat hubungan sedemikian rupa, dan kebohongan yang satu, melengkapi kebohongan yang lain, sehingga secara timbal balik, menimbulkan sutau gambaran palsu, seolah-olah merupakan suatu kebenaran. Padahal sejatinya adalah keterangan palsu, yang oleh Penuntut Umum dijadikan bahan baku pembuatan surat dakwaan,” imbuhnya.

Mantan Kadivhubinter Polri itu menjelaskan berasarkan keterangan Tommy Sumardi di depan persidangan, bahwa tanggal 27 April 2020, bersama Brigjen Pol Prastyo Utomo, ia datang menemui Irjen Pol Napoleon Nonaparte di ruang kerjanya, di Lantai 11, Gedung TNCC Mabes Polri.

Namun keterangan Saksi Tommy Sumardi, baik di BAP, maupun di persidangan, terkait peristiwa tanggal 27 April 2020, telah ‘terpatahkan’ oleh barang bukti, petunjuk rekaman CCTV, yang diputar di depan persidangan, yang memperlihatkan pada pukul 15.54 WIB, Saksi Tommy Sumardi dan saksi Brigjen Pol Prasetijo Utomo, turun dari mobil Alphard warna putih, No. Pol B-114-FAU, berjalan masuk Lobby Gedung TNCC Mabes Polri, Jakarta Selata, dan keluar lobby Gedung TNCC Mabes Polri, pada jam 16.02 WIB, yang artinya hanya menelan waktu selama 8 menit.

Waktu 8 (delapan) menit habis terpakai, hanya untuk masuk Gedung TNCC Mabes Polri, berjalan menuju depan lift lantai 1, menunggu pintu lift terbuka, lalu naik ke lantai 11, kemudian turun lagi, menunggu pintu lift terbuka untuk menuju lantai 1, dan berjalan keluar Gedung TNCC Mabes Polri.

Padahal setelah naik ke lantai 11 dan masuk ke ruang Kadivhubinter Polri, Tommy Sumardi mengaku bertemu dulu dengan staf Terdakwa Irjen Pol Napoleon Bonaparte untuk meminta diberitahukan perihal kedatangannya kepada Kadivhubinter. Baru kemudian dipersilahkan masuk dan bertemu.

Saat pertemuan, Saksi Tommy Sumardi mengaku melihat Prasetijo Utomo menyerahkan uang sebesar usd 50.000 kepada Irjen Pol Napoleon Nonaparte, namun ditolak oleh Irjen Pol Napoleon Nonaparte. Bahkan menurut keterangan Saksi Tommy Sumardi lagi, terjadi negosiasi dimana Irjen Pol Napoleon Nonaparte, menaikkan permintaan dari Rp3 miliar menjadi Rp7 miliar, dengan alasan “untuk petinggi kita yang menempatkan saya”.

Atas permintaan tersebut, Tommy Sumardi malahan mengaku sempat menelpon Joko Soegiarto Tjandra untuk minta persetujuan.

Rekaman CCTV yang membuktikan Tommy Sumardi hanya 8 (delapan) menit berada di dalam Gedung TNCC Mabes Polri, berkesesuaian dengan Berita Acara Konstruksi. Dalam adegan No 8 diterangkan:

”Tanggal 27 April 2020 jam 15.54 WIB, Tersangka Tommy Sumardi, Tersangka Brigjen Pol Prasetijo Utomo turun dari mobil Alfhard warna putih No. Pol B-114-FAU berjalan masuk lobby Gedung RNCC Mabes Polri, Jakarta Selatan. Tersangka Brigjen Pol Prasetijo Utomo membawa paper bag warna gelap,” kata dia.

“Sejatinya pada tanggal 27 April 2020 itu, Saksi Tommy Sumardi tidak bertemu dengan Terdakwa Irjen Pol Napoleon Bonaparte. Hal ini berkesesuaian dengan kesaksian Terdakwa Irjen Pol Napoleon Bonaparte, saksi Fransiscus Dumais, dan saksi Dwi Jayanti Putri, dan Brigjen Pol Prasetijo Utomo yang kompak menyatakan pada tanggal 27 April 2020 itu Tommy Sumardi tidak bertemu Terdakwa Irjen Pol Napoleon Bonaparte,” ujarnya lagi.

Kesaksian palsu Tommy Sumardi diulangi lagi dalam memberikan keterangan tentang peristiwa pertemuan dan penyerahan uang tanggal 28 April 2020, 29 April 2020. Keterangan palsu Tommy Sumardi yang lainnya juga terbongkar habis. Termasuk pengakuan palsunya, yang menyatakan tidak pernah bertemu lagi Kabareskrim Komjen Pol Listyo Sigit Prabowo pada sepanjang tahun 2020.

Usai Tommy Sumardi mengaku seperti itu di depan persidangan, Terdakwa Irjen Pol Napoleon Bonaparte lalu maju ke depan menghampiri meja majelis hakim menyerahkan bukti foto Tommy Sumardi tengah berada di ruang kerja Kabareskrim, memimpin doa ulang tahun Komjen Pol Listyo Sigit Prabowo yang dirayakan secara terbatas pada tanggal 5 Mei 2020. Ini artinya Tommy Sumardi lagi-lagi berbohong.

Menurut Irjen Pol Napoleon Bonaparte, semua keterangan Saksi Tommy Sumardi selain palsu juga dikualifisir sebagai kesaksian “Unus Testis Nullus Testis (satu saksi bukan bukti) hingga tidak dapat dijadikan alat bukti yang sah.

Pada bulan Maret 2020, sebelum mengenal Terdakwa Irjen Pol Napoloen Bonaparte, atas permintaan Djoko Soegiarto Tjandra untuk mengecek red notice di Divhubinter Polr, Tommy Sumardi meminta uang sebesar Rp25 miliar kepada pemilik Hotel Mulia itu. Terjadi negosiasi, Djoko Sugiarto Tjandra meminta diturunkan Rp5 milyar.

“Saat itu saya tidak setuju, seminggu kemudian, Joko Soegiarto Tjandra mengubungi saya kembali untuk membicarakan berapa yang saya minta terkait pengurusan red notice tersebut dan pada saat itu disetujui Rp10 milyar akan diserahkan kepada saya untuk mengurusan pengecekan red notice,” ujar Tommy Sumardi di depan persidangan.

Rekaman Tommy

Di akhir kesaksian Tommy Sumardi, Terdakwa Irjen Pol Napoloen Bonaparte secara mengejutkan meminta kepada majelis hakim untuk memutar rekaman testimoni Tommy Sumardi di kamar tahanan sesaat setelah ditahan.

Permintaan tersebut tidak dikabulkan majelis hakim untuk diperdengarkan tadi malam. Namun diperbolehkan diputar pada saat pemeriksaan terdakwa.

Terdakwa Irjen Pol Napoloen Bonaparte akhirnya membacakan transkrips testimoni yang berisi pengakuan Tommy Sumardi. Diantaranya, bahwa kasusnya dan Irjen Napoleoen Bonaparte itu direkayasa Kabareskrim Polri, dengan motif untuk menyelamatkan Komjen Pol Listyo Sigit Prabowo dari pertarungan tahta Kapolri yang bakal digelar pada Januari 2021.

Dalam persidangan Tommy Sumardi mengaku telah mengenal Kabareskrim Komjen Pol Listyo Sigit Prabowo sejak masih menjabat Kapolsek Kalimalang, berpangkat Ajun Komisaris Polisi.

Tatkala skandal Djoko Soegiarto Tjandra mencuat nama Kabareskrim Komjen Pol Listyo Sigit Prabowo menurut Tommy Sumardi dikaitan terlibat, sehigga dihantam kelompok kiri dan kanan termasuk datang dari arah Pasar Minggu (BIN).

Jalan satu-satunya untuk membantah ketidakterlibatannya dalam skandal Djoko Soegiarto Tjandra, adalah dengan mentersangkakan Tommy Sumardi sebagai pemberi suap. Lantaran Tommy Sumardi dijadikan sebagai pihak pemberi maka harus ada pihak penerima suap.

Untuk itu ditetapkanlah Irjen Pol Napoleon Bonaparte dan Brigjen Pol Prasetijo Utomo sebagai pihak penerima suap. Padahal sesuai testimoni Tommy Sumardi, uang dari Joko Soegiarto Tjandra sejatinya tidak pernah diserahkan kepada Terdakwa Irjen Pol Napoleon Bonarte. Melainkan masih ada di brankas Tommy Sumardi.

Selanjutnya Tommy Sumardi mengaku, lawyer untuk dirinya dan Joko Soegiarto Tjandra dipersiapkan oleh Kabareskrim Komjen Pol Listyo Sigit Prabowo.

Keterangan Tommy Sumardi di BAP yang ada kalimat yang tengah berada di Bareskrim hendak menghadap Kabareskrim Komjen Pol Listyo Sigit Prabowo dihilangkan.

Lalu Kabareskrim Komjen Pol Listyo Sigit Prabowo membawa BAP Saksi Tommy Sumardi yang sudah diubah itu ke Prseiden Joko Widodo guna mengklarifikasi dirinya tidak terlibat dalam skandal kasus Joko Soegiarto Tjandra.

Atas dasar itu, Napoleon berpendapat bahwa Tommy Sumardi terbukti memberikan keterangan palsu di muka persidangan dapat diancam dengan sangsi pidana sebagaimana yang diatur dalam pasal 22 UU Tipikor. Dan pada sisi lain meruntuhkan bangunan dakwaan jaksa penuntut umum secara keseluruhan dan mendasar.

Semua keterangan Napoleon ini tentu keterangan sepihak dari dirinya. Bagaimana kebenaran sebenarnya, tentu tergantung fakta-fakta yang terungkap di persidangan dan penilaian majelis hakim yang memeriksa perkara.

Joko Tjandra Bantah Pernah Beri Uang ke Pinangki

Halaman: 
Penulis : Khairul Anwar