logo


China Bakal Jadi Negara Perekonomian Terbesar Dunia pada 2028, Begini Penjelasannya

Thomas Weir Pauken, seorang pengamat, menjelaskan sejumlah faktor yang membuat China kemungkinan dapat menggeser posisi AS sebagai negara dengan perekonomian terbesar di dunia pada tahun 2028 mendatang

6 Januari 2021 20:35 WIB

Pelabuhan Shanghai, China
Pelabuhan Shanghai, China istimewa

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Presiden AS terpilih, Joe Biden, telah mebgeluarkan isyarat bahwa pemerintahannya tidak akan segera membatalkan kebijakan tarif dan tantangan industri teknologi yang sebelumnya telah dilakukan oleh Presiden Donald Trump terhadap China, seperti yang sudah dilaporkan The New York Times dan CNBC akhir bulan lalu.

Namun, tampaknya Beijing siap untuk skenario yang mungkin terjadi dengan mengadopsi strategi "sirkulasi ganda" untuk mengurangi ketergantungannya pada pasar luar negeri, seperti yang sudah dijelaskan oleh Duta Besar Zhang Ming dalam artikel opini yang dirilis oleh Euractiv pada Desember 2020 lalu.

Mengutip kompleksitas dan volatilitas dalam ekonomi global, sang duta besar merujuk pada "paradigma pembangunan baru China dengan sirkulasi domestik sebagai andalan dan sirkulasi domestik dan internasional yang saling memperkuat".


Wapres AS Tak Bisa Tolak Keputusan Kongres Menangkan Joe Biden dalam Pilpres AS

Sementara itu, Presiden China Xi Jinping juga telah mengumumkan konsep "sirkulasi ganda" pada bulan Mei lalu, jauh sebelum pemilihan presiden AS 2020 yang digelar pada bulan November.

Menurut Thomas Weir Pauken II, seorang pengamat politik AS-China, China sebenarnya tidak pernah memiliki trik ilusi tentang pemerintahan Trump atau Biden.

"Beijing terus meningkatkan permintaan domestik sebagai pendekatan yang masuk akal," kata Pauken dikutip Sputniknews.

"Banyak pemerintah Barat akan melakukan penguncian untuk mengekang virus corona tahun depan dan mengeluarkan aturan ketat soal perjalanan internasional, social distancing, penutupan restoran dan toko-toko non-esensial yang akan menyeret ekonomi AS dan Eropa ke dalam kekacauan untuk paruh pertama tahun ini," tambahnya.

Sedangkan China, lanjutnya, rebound ekonomi mereka adalah hal nyata dan diperkirakan akan terus melonjak hingga 2021. Pauken menambahkan bahwa konsumsi domestik yang tumbuh dapat menjadi kompensasi akan adanya penurunan permintaan oleh konsumen internasional.

Terlebih, menurut laporan Administrasi Umum Kepabeanan pada Desember lalu, surplus perdagangan China juga mencapai $ 75,42 miliar pada November 2020, naik 21% dari tahun sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa permintaan global untuk barang-barang asal China masih meningkat meski di tengah pandemi. Hal tersebut juga sudah mendapat pengakuan dari The Wall Street Journal pada bulan lalu.

Pada saat yang sama, pasar konsumen China yang berpopulasi 1,4 miliar jelas memberikan peluang besar, terutama orang-orang kelas menengah di negara Asia Timur itu berjumlah lebih dari 400 juta orang.

"Terkait dengan apa yang disebut kerja sama yang lebih baik antara Biden dan Beijing, itu belum pasti dan China tidak lagi khawatir tentang konsumen AS yang mendorong tingkat pertumbuhan ekonomi China," jelas Pauken.

"Perang dagang era Presiden Trump telah mengajarkan kepada orang China bahwa 'lokalisasi' bukan globalisasi akan membuat China kuat dan lebih bersemangat dalam menatap jangka menengah hingga jangka panjangnya. 'China First' memiliki filosofi yang mirip dengan 'America First' milik Donald Trump," lanjutnya.

Selain itu, nilai mata uang China, yuan, telah meningkat dibandingkan dengan dolar AS menjelang pelantikan Joe Biden. Pauken mengatakan bahwa hal ini menunjukkan bahwa "Tiongkok bersiap untuk bergerak maju pada 'sirkulasi ganda' karena penguatan yuan akan memainkan peran yang lebih penting".

Sementara itu, Pusat Penelitian Ekonomi dan Bisnis (CEBR), salah satu konsultan ekonomi terkemuka di Inggris, memproyeksikan bahwa pada tahun 2028, China kemungkinan besar akan mengambil alih status negara dengan perekonomi terbesar di dunia yang sejauh ini masih dipegang AS, seperti dilansir dari The Guardian.

"Washington akan berada dalam posisi yang jauh lebih lemah untuk melanjutkan perang dagang dengan Beijing, dan China akan menanggapinya dengan tindakan 'tit-for-tat'," kata Pauken.

"Ekonomi AS akan terguncang dengan perang dagang yang berlarut-larut dan perlu waktu bertahun-tahun untuk pulih".

AS Jatuhkan Sanksi terhadap Sektor Baja Iran

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia
 
×
×