logo


Harga Kedelai Impor Melambung, Sekjen KITA: Kedaulatan Pangan Jangan Cuma Jargon

Kenaikan harga kedelai impor di awal tahun 2021 ini membuat usaha para produsen tahu dan tempe morat-marit

4 Januari 2021 09:28 WIB

Sekjen Kerapatan Indonesia Tanah Air (KITA), Ayep Zaki
Sekjen Kerapatan Indonesia Tanah Air (KITA), Ayep Zaki Dok. KITA

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Kenaikan harga kedelai impor di awal tahun 2021 ini membuat usaha para produsen tahu dan tempe morat-marit. Sebagai bentuk protes, para pengrajin tempe menjalankan mogok produksi bersama yang dilakukan pada tanggal 1 hingga 3 Januari kemarin.

Sekjen Kerapatan Indonesia Tanah Air (KITA), Ayep Zaki angkat suara soal kenaikan harga kedelai yang tadinya di kisaran Rp7.000 melambung hingga Rp10.000. Zaki mengatakan, naiknya harga kedelai hingga hampir 50 persen ini merupakan dampak dari lonjakan permintaan pembelian dari Tiongkok. Pasalnya selama ini, hampir 90 persen kebutuhan kedelai Indonesia dipenuhi dari impor.

"Ini merupakan tantangan tersendiri bagi pemerintah untuk mencari solusi pemenuhan kebutuhan pokok bangsa yang selalu import-oriented, khususnya kedelai," ujar Ayep Zaki di Jakarta, Senin (4/1).


Food Estate, Strategi Menghadapi Krisis (Bagian 2)

Menurut Ayep Zaki yang juga aktif dalam pemberdayaan UMKM, para pengrajin tempe tahu sudah saatnya berkolaborasi dengan petani kedelai lokal. Ini yang saat ini sedang diupayakan oleh KITA dengan membangun komunikasi kerjasama melalui dinas terkait di beberapa daerah seperti Sumatera Utara, Sukabumi dan Sigi Sulawesi Tengah.

Selain itu, KITA juga terus mendukung gerak pemerintah dalam memberikan penyuluhan dan sosialiasi kepada para pengrajin tempe tahu agar usahanya bisa naik kelas. Saat ini KITA melalui FKDB yang memiliki 85 UMKM yang memproduksi dan mendistribusukan tempe di 82 kota/kabupaten di seluruh Indonesia, merasakan dampak dari kenaikan gara-gara kenaikan harga kedelai ini.

Belum lagi persoalan baru di sejumlah wilayah pertanian yakni kelangkaan pupuk bersubsidi. KITA memantau di sejumlah titik pertanian terjadi kelangkaan pupuk bersubsidi, akibatnya petani terpaksa membeli pupuk non subsidi yang harganya lebih mahal 2 kali lipat.

"Persoalan pangan atau pertanian ini perlu menjadi perhatian bersama. Jangan sampai hanya diselesaikan juga dengan solusi sementara. Namun fokus bersama kita adalah membangun kedaulatan pangan, tidak lagi ketergantungan dari komoditas asing. Kedaulatan pangan jangan cuma jargon saja," kata Zaki menambahkan.

Kang Maman Sebut Kepemimpinan Jokowi Diakui Dunia, Ini Alasannya

Halaman: 
Penulis : Aurora Denata