logo


Copot dan Ganti Alat Huawei dari Jaringan Telekomunikasi, AS Siapkan Dana USD 1,9 Miliar

Otoritas AS siapkan dana hingga USD 1,9 miliar untuk mencopot dan mengganti perangkat Huawei serta ZTE dari jaringan telekomunikasinya

21 Desember 2020 21:22 WIB

gizchina

WASHINGTON, JITUNEWS.COM - Pemerintah Amerika Serikat dikabarkan akan menggelontorkan dana hingga USD 1,9 miliar untuk mencopot seluruh perangkat Huawei dari jaringan telekomunikasi mereka. Dua orang sumber Reuters mengatakan bahwa dana tersebut diambil dari dana program bantuan Covid-19 yang senilai USD 900 miliar.

Komisi Komunikasi Federal AS (FCC) pada bulan Juni lalu sudah menganggap Huawei dan ZTE sebagai perusahaan yang berpotensi mengancam keamanan nasional AS sehingga perusahaan penyedia layanan jaringan seluler tidak diijinkan untuk membeli dan menggunakan perangkat jaringan dari dua perusahaan China teresebut.

Pada awal Desember ini, FCC juga sudah menyelesaikan aturan-aturan yang nantinya mewajibkan para operator layanan seluler AS untuk mencopot dan mengganti perangkat Huawei dan ZTE yang sudah mereka pasang. Namun, kebijakan tersebut masih menunggu pengesahan dari pihak Kongres.


Dialirkan Lewat Jalur Pipa Menuju Irak, Ternyata Begini Modus Pasukan AS Curi Minyak Suriah

Langkah tersebut sudah mendapat kritikan dari pihak Huawei, dimana perusahaan milik Ren Zhengfei tersebut mengaku sangat kecewa dengan "pencopotan paksa" produk mereka dari jaringan telekomunikasi AS. Menurut Huawei, hal tersebut membuat warga masyarakat AS berpotensi tidak mendapatkan layanan komunikasi via seluler, terutama di kawasan-kawasan terpencil selama masa pandemi ini, mengingat komunikasi adalah salah satu kebutuhan terpenting.

Pada Jumat pekan lalu, Kementerian Perdagangan AS juga telah mengumumkan bahwa perusahaan produsen chipset SMIC, produsen drone DJI Technology Co beserta lebih dari 60 perusahaan asal China lainnya sudah masuk dalam daftar blacklist pemerintah AS, guna melindungi keamanan nasional.

Puluhan perusahaan China itu, termasuk Huawei dan SMIC, telah terjebak di tengah memburuknya tensi hubungan antara dua negara dengan perekonomian terbesar di dunia tersebut.

Kali Ini Tak Hanya Sanksi, AS Ancam Serang Balik Pihak Pelaku Serangan Siber

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia