logo


Abaikan Somasi Pemerintah California soal Penerapan Prokes, Amazon Digugat

Pemerintah negara bagian California, AS, melayangkan surat gugatan kepada perusahaan e-commerce Amazon

15 Desember 2020 17:15 WIB

e-commerce asal Amerika Serikat, Amazon
e-commerce asal Amerika Serikat, Amazon istimewa

LOS ANGELES, JITUNEWS.COM - Pemerintah Negara Bagian California, Amerika Serikat, dikabarkan telah melayangkan surat gugatan terhadap raksasa e-commerce Amazon, karena diduga mengabaikan protokol keamanan dan kesehatan para pegawai yang bekerja di sejumlah fasilitas milik perusahaan tersebut yang ada di California.

Surat gugatan tersebut sudah diajukan kepada Pengadilan Tinggi yang ada di Sacramento, pada Senin (14/12), setelah sebelumnya pihak pemerintah sudah mengirimkan somasi terhadap Amazon.

Menurut pres rilis, perusahaan milik Jeff Bezos tersebut telah mengabaikan somasi yang dilayangkan pada 19 Agustus lalu oleh pemerintah negara bagian, mengenai upaya pencegahan Covid-19, termasuk kebijakan ijin cuti bagi para karyawan yang sedang sakit, prosedur kebersihan tempat kerja, dan data informasi jumlah karyawan yang terkonfirmasi positif Covid-19 di fasilitas Amazon yang ada di California.


Fauci Ingatkan Vaksin Covid-19 Bukan Pengganti Aturan Protokol Kesehatan

"Amazon sudah mendapat pemasukan miliaran dolar selama pandemi ini berkat para buruh. Para pekerja rela mempertaruhkan nyawa demi menyelesaikan tugas mereka," kata Jaksa Agung California Xavier Becerra dalam siaran persnya, dikutip Sputniknews.

"Sangat penting untuk mengetahui apakah para pekerja sudah menerima perlindungan kerja sesuai dengan undang-undang yang berlaku...Amazon telah menunda dalam memberikan respon terhadap penyelidikan yang sudah lama kami minta," tambahnya.

Sementara itu, Mantan Menteri Ketenagakerjaan AS Robert Reich menyebut Amazon sebagai "penjahat kapitalisme".

Dalam kolom opini yang dirilis oleh The Guardian pada Minggu (13/12), Reich mengatakan bahwa sebuah email dari seorang pegawai Amazon di New York menyebutkan bahwa enam rekannya telah terkonfirmasi positif Covid-19 dalam enam pekan terakhir. Hal tersebut terjadi karena pihak perusahaan tidak terlalu mempedulikan aturan protokol kesehatan, seperti social distancing.

Namun, saat para pekerja menyuarakan kekhawatiran mereka kepada pihak manajemen, mereka hanya mendapat dua pilihan, yakni dijatuhi sanksi atau diminta untuk keluar dari pekerjaan tanpa adanya pesangon.

"Beberapa dekade lalu, para pekerja di perusahaan besar dapat mengatasi kondisi kerja yang tidak aman dengan melayangkan komplain kepada pihak perusahaan, dimana nantinya pihak perusahaan meminta para pekerja untuk menyelesaikan masalah tersebut, atau melayangkan surat pengaduan kepada Badan Keamanan dan Kesehatan AS yang kemudian perusahaan tersebut akan dijatuhi sejumlah sanksi denda," tulisnya.

"Alternatif lainnya, mereka (para pekerja) dapat mempermalukan perusahaan dengan menyuarakan komplain mereka kepada publik, sebagai langkah terakhir," tambahnya.

"Tidak ada satu pun jalur ini yang dapat ditempuh oleh para pekerja Amazon....para pekerja Amazon tidak memiliki serikat buruh. Selama 25 tahun (berdirinya Amazon), pihak korporasi secara agresif menentang pembentukan organisasi serikat pekerja," tukasnya.

Vaksinasi Covid-19 Sudah Dimulai, tapi New York Kemungkinan Kembali Shut Down

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia
 
×
×