logo


Pasokan dari Brazil dan Australia Terganggu, Harga Biji Besi dari China Naik 10 Persen

Menurunnya produksi biji besi dari Brazil, serta badai siklon tropis yang melanda Australia mengganggu pasokan biji besi dunia. Akibatnya, harga biji besi dari China meningkat 10 persen

13 Desember 2020 15:05 WIB

Ilustrasi Tambang
Ilustrasi Tambang istimewa

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Menurunnya kapasitas produksi biji besi di Brazil dan badai tropis yang menghantam Australia membuat jumlah pasokan komoditas tambang tersebut berkurang, serta membuat harga biji besi China mengalami peningkatan hingga 10 persen seiring dengan tingginya permintaan global.

Analis senior Erik Hedborg yang bekerja di perusahaan CRU mengatakan bahwa kuatnya perekonomian China dan besarnya investasi pada proyek-proyek infrastruktur, memicu peningkatan permintaan untuk komoditas baja, ditengah kolapsnya sejumlah perusahaan tambang di Brazil dan rangkaian cuaca buruk yang melanda Australia Barat.

Menurut data Asosiasi Baja Dunia, kedua negara tersebut menyumbang 82 persen ekspor biji besi dunia di tahun 2019 lalu.


Sekjen PBB Minta Semua Negara Berlakukan Darurat Iklim

"Kita akan melihat penurunan kapasitas produksi dari Brazil yang lebih rendah daripada yang diharapkan, dan ini akan terus berlanjut hingga tahun 2021 mendatang...sebagai contoh, (perusahaan) Vale akan tetap beroperasi dengan mengurangi kapasitas produksinya pada tahun depan," kata Hedborg kepada CNBC.

Untuk diketahui, Vale adalah produsen dari Brazil yang menjadi perusahaan biji besi terbesar kedua di dunia.

Ia memperkirakan permintaan dari komoditas baja untuk kepentingan konstruksi dan proyek infrastruktur akan terus mengalami peningkatan, dimana jumlah pasokan yang berkurang tersebut menyebabkan adanya kenaikan harga.

"Saat ini juga ada badai tropis yang bergerak mendekati garis pantai (Australia)...dan dua pelabuhan terbesar di Australia telah ditutup, dimana pelabuhan-pelabuhan tersebut telah menyuplai lebih dari separuh pasokan biji besi global," tambahnya.

PBB Prediksi Pandemi Picu Resesi Global Terburuk Selama 80 Tahun Terakhir

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia