logo


UU Cipta Kerja Sudah Sah, Luhut Ajak Investor Asing Tanam Saham di Indonesia

Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan bahwa target pemerintah tahun 2025 adalah membuat Indonesia menjadi negara keempat dengan perekonomian terbesar di dunia.

11 Desember 2020 14:00 WIB

istimewa

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Menko Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengajak para penanam modal, khususnya dari luar negeri untuk berinvestasi di Indonesia.

"Saya ingin mengundang Anda semua untuk datang ke Indonesia dan mulai berinvestasi ke Indonesia mulai hari ini," ujar Luhut dalam acara US-Indonesia Investment Summit yang digelar secara virtual, Jumat (11/12).

Ia menambahkan bahwa potensi pasar yang dimiliki oleh Indonesia sangat besar, terlebih dengan dikeluarkannya UU Cipta Kerja yang membuat regulasi soal perijinan badan usaha menjadi lebih ringkas dan mudah.


Sri Mulyani Naikkan Cukai Hasil Tembakau 2021, Saham Produsen Rokok Anjlok

"Indonesia saat ini sudah menetapkan UU Cipta Kerja yang secara history dapat meningkatkan Indonesia sebagai tujuan investasi dan Omnibus Law ini dapat menyederhanakan dan juga mensinkronisasi 8.000 lebih regulasi yang ada dari sekitar 500 Pemda dan yang akan berpihak kepada UMKM dan perusahaan besar," sambungnya.

Untuk mendukung UU Cipta Kerja tersebut, lanjutnya, pemerintah telah mempersiapkan Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tentang Perizinan Berusaha Berbasis Risiko dan Tata Cara Pengawasan, dimana hal ini akan mengatur Norma, Standar, Prosedur dan Kriteria (NSPK).

Sederhananya, RPP tentang NSPK tersebut nantinya menjadi penyederhanaan aturan dalam hal perizinan yang berlaku di Indonesia.

"Kami akan menerapkan peraturan baru RPP tentang NSPK yang bisa memberikan kepastian dalam berusaha," tambahnya.

Lebih lanjut, Luhut menyampaikan bahwa Indonesia juga telah mendapat kepercayaan dari Amerika Serikat terkait fasilitas kemudahan ekspor barang Indonesia ke AS, yang disebut Generalized System of Preferences (GSP).

Dengan diberikannya GSP, maka semua barang ekspor dari Indonesia ke pasar AS tidak akan dikenai tarif bea masuk, sehingga nilai ekspor komoditas Indonesia dapat meningkat, yang tentunya sangat menguntungkan bagi para investor.

"Indonesia telah menerima pembebasan tarif dengan skema GSP untuk3.572 pos tarif yang telah diklasifikasikan oleh US Customs and Border Protection (CBP) pada level Harmonized System (HS) 8-digit," ungkapnya.

Luhut juga mengatakan bahwa target pemerintah untuk tahun 2025 mendatang adalah dapat membuat Indonesia menjadi negara dengan ekonomi terbesar keempat dunia.

"Indonesia berharap agar perusahaan (investor) Amerika bisa melihat peluang ini. Pasar Indonesia sangat besar, terdiri dari lebih dari 200 juta penduduk dengan menyumbang nilai lebih dari US$ 1 triliun. Ditambah adanya visi presiden untuk 2045 kami ingin Indonesia menjadi ekonomi keempat terbesar di dunia dan juga dapat menggapai pencapaian secara dramatis untuk kebangkitan penduduk Indonesia di seluruh penjuru negeri," tukasnya.

Ekonomi AS Masih Terpuruk, Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar Menguat

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia