logo


Langkah KKP Kembangkan Budidaya Ikan Lokal Secara Berkelanjutan

Potensi komoditas-komoditas lokal ini dapat dikembangkan untuk peningkatan pendapatan masyarakat

10 Desember 2020 15:57 WIB

dok.jitunews/nurman

JAKARTA, JITUNEWS.COM Saat ini tercatat hanya 18–20% saja jenis komoditas budidaya yang masuk kedalam pendataan statistik perikanan, sisanya tergolong ikan lainnya yang jumlahnya masih sedikit. Baru ada 6 jenis ikan lokal saja di data statistik perikanan budidaya yaitu baung, papuyu atau betok, gabus, toman, jelawat dan belida. Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP, Slamet Soebjakto menyebutkan ada ribuan komoditas ikan lokal berpotensi dikembangkan untuk kegiatan budidaya di Indonesia dan beberapa telah dibudidayakan oleh masyarakat.

“Ke depannya, ikan lokal berperan sangat penting didalam kancah produksi perikanan budidaya. Potensi komoditas-komoditas lokal ini dapat dikembangkan untuk peningkatan pendapatan masyarakat dan juga menyerap tenaga kerja," terang Slamet di Jakarta, Senin (7/12).

Saat ini ada 3 Unit Pelaksana Teknis (UPT) lingkup Ditjen Perikanan Budidaya yang fokus mengembangkan ikan-ikan lokal asli Indonesia, diantaranya Balai Perikanan Budidaya Air Tawar (BPBAT) Sungai Gelam yang mengembangkan ikan jelawat, baung, kapiat, nilem, patin jambal, tambakan dan papuyu.


KKP Optimis Indonesia Jadi Pusat Budidaya Udang Jerbung dan Udang Putih

Kemudian Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi melakukan kegiatan budidaya ikan baung dan tawes. Serta, di Pulau Kalimantan ada Balai Perikanan Budidaya Air Tawar (BPBAT) Mandiangin berperan dalam mendesiminasikan budidaya ikan papuyu dan gabus.

Slamet menambahkan, selain ikan lokal konsumsi, KKP juga terus mengembangkan potensi ikan hias dari jenis lokal diantaranya ikan arwana, botia, rainbow papua, cupang alam, channoides, tigerfish, balashark dan lainnya.

Lanjut Slamet, “kita ingin memasukan komoditas lokal yang lain yang potensial. Jadi, kami harapkan dari badan riset dan juga dari lembaga penelitian, tolong informasikan jenis-jenis ikan lokal apa saja yang sudah dieksploitasi masyarakat untuk konsumsi, sehingga akan kita kembangkan kearah breeding (pembenihan) dan juga untuk kegiatan-kegiatan usaha perikanan budidaya”.

Menurutnya, budidaya ikan lokal secara berkelanjutan sangat berpeluang dikembangkan di Indonesia. “Kita punya satu misi, punya cita-cita dan kebijakan di dalam pengelolaan sumberdaya perikanan budidaya ini harus berkelanjutan, bukan hanya mengandalkan peningkatan produksi saja, namun harus memperhatikan faktor lingkungan, ekonomi dan juga sosial”, ucap Slamet.

Slamet memaparkan 7 langkah strategi Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk pengembangan budidaya ikan lokal di Indonesia.

Yang pertama adalah penataan sentra-sentra produksi khusus ikan lokal serta dukungan teknologi budidaya dari Unit Pelaksana Teknis (UPT) lingkup Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya. “Tugas UPT melakukan domestikasi ikan lokal sehingga akan mampu dikuasai proses produksi benihnya dan sistem produksinya untuk menunjang proses pembesaran dalam sistem budidaya”, kata Slamet.

Langkah kedua yaitu pengembangan infrastruktur dan konektivitas. “Tentu saja kita kembangkan bersama kementerian dan lembaga yang lain dibawah pembinaan Kementerian Koordinator Bidang Maritim dan Investasi dalam pengembangan perikanan budidaya. Kedepannya semua kementerian ataupun lembaga harus mendukung pengembangan perikanan budidaya termasuk budidaya ikan lokal," tutur Slamet.

Kemudian, ketiga melalui peningkatan produksi budidaya khususnya didalam penyediaan input produksi. “Salah satu input produksi yang sangat penting adalah benih, sehingga diperlukan penguatan-penguatan terhadap Unit Pembenihan Rakyat (UPR), jadi kita tidak akan mengeser UPR-UPR yang sudah ada, tapi menambahkan kegiatan UPR untuk memperkuat ikan lokal yang ada”, lanjut Slamet.

Langkah selanjutnya, keempat yaitu terkait manajemen kesehatan ikan dan lingkungan. Menurut Slamet, saat ini memang belum ada masalah terkait kesehatan dan lingkungan pada budidaya ikan lokal. Namun, Ia berharap budidaya ikan lokal harus dilakukan dengan Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) untuk menghindari masuk atau terkontaminasinya penyakit pada sistem budidaya.

Kelima melalui penguatan usaha berbasis akses pasar. “Ini saya rasa memang ikan lokal ini masih berbasis lokal karena permintaannya sangat tinggi. Namun belum lama ini dari Cina juga mulai meminati produk ikan-ikan lokal Indonesia seperti ikan gabus dan ikan lainnya," sambung Slamet.

Lalu, keenam yaitu peningkatan kompetensi sumberdaya manusia (SDM) dan pengembangan ilmu pengetahuan teknologi (IPTEK). “Disini kami memerlukan bantuan dari BRSDM KKP dan juga LIPI dan juga lembaga riset yang lain terkait kompetensi SDM dan pengembangan IPTEK khususnya untuk pengembangan ikan-ikan lokal yang baru yang belum kita ketahui dan itu sudah biasa dikonsumsi oleh masyarakat. Sehingga ikan-ikan tersebut bisa kita budidayakan," sebut Slamet.

Terakhir langkah ketujuh yaitu penguatan kelembagaan dan komitmen stakeholder. “Ini menjadi penting, stakeholder disini dalam artian bukan hanya pemerintah saja tetapi juga yang terlibat seperti swasta. Kita harapkan swasta tidak mengeksplotasi ikan-ikan lokal, seperti sekarang ikan gabus untuk produksi albumin. Banyak swasta yang minta sehingga kita harus dampingi supaya tidak terjadi eksplotasi ikan gabus secara besar-besaran di masyarakat untuk kegiatan industri. Serta untuk ikan-ikan lokal lainnya juga," tegas Slamet.

Dalam keterangannya, Kepala Balai Perikanan Budidaya Air Tawar (BPBAT) Mandiangin, Andy Artha Octopura menyampaikan bahwa peluang budidaya ikan lokal di Indonesia sangat besar, karena beberapa faktor diantaranya mudah dikembangkan, kemudian teknologi aplikatif dan inovatif telah dikuasai, lalu peluang pasar dan preferensi konsumen tinggi serta upaya konservasi plasma nuftah ikan asli daerah.

”Ditengah pandemi covid, kita tahu berdasarkan hasil penelitian bahkan Dokter Terawan selaku Menteri Kesehatan menyebutkan bahwa ekstrak gabus merupakan salah satu suplemen untuk meningkatkan imun tubuh manusia ditengah-tengah pandemi ini. Artinya, secara sosial dan juga secara kesehatan ikan gabus ini memiliki nilai yang sangat luar biasa. Dan perlu digarisbawahi ikan gabus ini adalah ikan lokal Indonesia,” ungkap Andy.

Saat ini, BPBAT Mandiangin memang diketahui fokus mengembangkan ikan gabus haruan asli Kalimantan. Sehingga Andy menyakini kedepan budidaya ikan gabus ini akan sangat tinggi permintaannya untuk pasar dalam maupun luar negeri.

“Ini yang merupakan peluang bagaimana kedepan budidaya gabus ini akan kita kembangkan secara terintegrasi dari hulu ke hilir, apalagi kita diketahui kandungan albumin ikan gabus itu juga bisa menjadi obat biofarma yang memiliki nilai yang lebih tinggi,” tambah Andy.

Sementera, Endhay Kusnendar yang merupakan Perekayasa Ahli Utama dari Pusat Riset Perikanan Budidaya BRSDM KKP mengatakan bahwa kegiatan budidaya adalah kunci dalam upaya pelestarian ikan lokal Indonesia.

“Untuk spesies ikan lokal yang telah berhasil didomestikasi harus terus dikembangkan agar tetap lestari. Domestikasi disini artinya ikan lokal ini sudah bisa cara pembenihannya, selain itu sudah berhasil sampai dengan tahap pembesaran,” kata Endhay.

Menurutnya, ikan-ikan lokal yang telah berhasil didomestikasi dapat dikembangkan secara budidaya dengan sistem ekstensif, semi intensif atau intensif serta dapat juga dilakukan melalui budidaya berbasis perikanan tangkap atau dikenal dengan Cultured Based Fisheries (CBF).

Dukung Siklus Bisnis yang Integratif, KKP Kembangkan Kawasan Industrialisasi Budidaya Kakap Putih di Kepulauan Meranti

Halaman: 
Penulis : Vicky Anggriawan