logo


Setengah Produksi Konsentrat Freeport Diolah di Gresik

Bila pembangunan smelter Gresik tahap dua selesai, maka 100 % konsentrat Freeport diolah dalam negeri.

21 April 2015 16:51 WIB

Tambang freeport
Tambang freeport

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Sebanyak 48 persen hasil tambang PT Freeport Indonesia berupa konsentrat sudah diolah di smelter miliknya yang berada di Gresik. Rencananya, bila pembangunan smelter Gresik tahap dua sudah selesai, maka 100 persen konsentrat Freeport akan diolah dalam negeri.

Hari ini, Selasa (21/4), tim Jitunews.com menyambangi pabrik pengolahan konsentrat atau biasa disebut Portsite di Mimika yang jaraknya sekitar 60 menit menggunakan mobil dari pusat kota Mimika. Di Portsite, konsentrat akan dikirim ke smelter Gresik atau ke negara-negara tujuan ekspor dengan menggunakan kapal-kapal. Namun sebelum dikirim, konsentrat itu akan dikeringkan terlebih dahulu.

Untuk diketahui, sebelum dimasukkan ke Kapal, ada proses penting lainnya yaitu proses penimbangan dan perhitungan kandungan konsentrat yang dilakukan oleh pemerintah melalui aparat bea cukai maupun Sucofindo. Proses penimbangan dan perhitungan konsentrat itulah yang nantinya menentukan berapa pajak maupun royalti yang dibayarkan Freeport kepada pemerintah Indonesia.

"Disini semuanya terbuka, timbangannya pun disegel, dan pemerintah juga selalu menghitung kandungan konsentrat dengan menggunakan sampling, kita tidak ikut campur proses tersebut," kata Concentrate Manager PT Freeport Indonesia, Area Laga di Mimika, Selasa (21/1).

Area mengatakan, biasanya dalam 1 ton kandungan konsentrat PT Freeport Indonesia, terdapat sebanyak 22 persen tembaga, 2.5 gram emas, dan 40 gram perak. Sisanya adalah lumpur pasir atau besi dan lain sebagainya.

Dalam setahunnya, Freeport saat ini mampu menghasilkan sebanyak 1,1 juta ton per tahun. Produktivitas itu berkurang drastis sejak Freeport tahun 2011 akibat persoalan-persoalan internal Freeport seperti mogok kerja dan lain sebaginya. Padahal, sebelumnya Freeport mampu memproduksi konsentrat hingga sebesar 1,9 juta ton rata-rata per tahun.

Apalagi ketambahan dengan persoalan yang mengemuka belakangan ini yakni soal pembayaran ekspor dengan menggunakan L/C. Sejak 1 April 2015 ini, Freeport praktis tidak bisa melakukan ekspor. Saat ini (21/4) ada 2 kapal asing yang tidak bisa melakukan bongkar muat barang di Portsite akibat dampak aturan L/C. Dari pantauan Jitunews.com, ada kapal berbendara Jepang dan India yang tidak bisa merapat. Hal itu jelas sangat merugikan Freeport karena Freeport harus menanggung pinalti biaya keterlambatan angkut sebesar US$ 50 ribu per harinya.

"Sejak 1 April tidak bisa ekspor karena aturan L/C, kapalnya dari jepang dan india. Untuk itu kita harus membayar sebesar US$ 50 ribu per hari untuk kapal asing dan US$ 20 ribu per hari untuk kapal dalam negeri.

IUPK untuk Freeport Belum Keluar, Ini Pertimbangan KESDM

Halaman: 
Penulis : Vicky Anggriawan