logo


Menko PMK Sebut Sumut Jadi Daerah Pecandu Narkoba Terbesar di Indonesia

Muhadjir mengatakan bahwa permasalahan yang saat ini harus dicarikan solusi adalah bagaimana menekan angka penyalahgunaan NAPZA

5 Desember 2020 20:29 WIB

Menko PMK, Muhadjir Effendy dalam kunjungannya ke Loka Rehabilitasi Badan Narkotika Nasional (BNN) di Deli Serdang, Sabtu (5/12/2020).
Menko PMK, Muhadjir Effendy dalam kunjungannya ke Loka Rehabilitasi Badan Narkotika Nasional (BNN) di Deli Serdang, Sabtu (5/12/2020). Kemenko PMK

MEDAN, JITUNEWS.COM - Permasalahan penyalahgunaan narkotika, psikotropika, dan zat adiktif (NAPZA) merupakan ancaman bagi generasi muda bangsa. Hal ini harus menjadi perhatian serius seluruh pemanggu kepentingan. Diketahui bahwa Sumatera Utara merupakan daerah dengan pecandu narkoba terbesar di Indonesia. Prevalensinya tercatat sebesar 2,53 persen.

“Pengguna narkoba di Sumatera Utara bahkan lebih besar daripada prevalensi nasional yang hanya 1,8 persen,” kata Menko PMK, Muhadjir Effendy pada kunjungannya ke Loka Rehabilitasi Badan Narkotika Nasional (BNN) di Deli Serdang, Sabtu (5/12/2020).

Muhadjir mengatakan bahwa permasalahan yang saat ini harus dicarikan solusi adalah bagaimana menekan angka penyalahgunaan NAPZA dan mendorong masifnya upaya rehabilitasi bagi korban. Hal ini perlu dilakukan karena citra rehabilitasi masih kurang dipahami masyarakat luas sehingga masih ada kekhawatiran terhadap proses rehabilitasi. Tren jenis zat yang banyak digunakan oleh penyalahguna di Sumatera Utara masih seputar sabu-sabu, ekstasi dan ganja.


Muhadjir Effendy Raih Penghargaan Best Ministers dari Obsession Award 2020

“Penyalahguna NAPZA takut menjalani rehabilitasi karena dipersepsikan sama dengan penyiksaan. Perlu dingat, bahwa rehabilitasi bukanlah aib,” ujar Muhadjir.

Saat ini, pemerintah di Sumatera Utara sudah menyediakan 48 fasilitas rehabilitasi, 30 di antaranya merupakan binaan Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi dan 18 lainnya merupakan binaan Kementerian Sosial.

“Sumatera Utara perlu mendapat perhatian serius mengingat jumlah penduduk di sini merupakan terbanyak keempat di Indonesia setelah Jawa Barat, Jawa Timur dan Jawa Tengah,” jabar Muhadjir.

Ia juga sempat berdialog dengan salah satu klien rehabilitasi di tempat tersebut. “Saya doakan mudah-mudahan segera kembali ke kehidupan normal dan tidak mengulanginya lagi. Nanti tolong ceritakan ke kerabat terdekat, betapa tidak enaknya hidup sebagai pecandu dan agar menjauhi barang yang merusak itu,” pesan Muhadjir.

Muhadjir meninjau fasilitas yang tersedia di sana. Terpantau adanya fasilitas layanan berupa ruangan detoksifikasi, yang klien baru ditempatkan di sana selama 2 minggu, ada pula ruang perawatan, serta ruang konseling. Klien rata-rata berusia 17 hingga 35 tahun yang mendapatkan narkoba dari lingkungan teman terdekat dengan harga sekali pakai dikisaran Rp50 ribu hingga Rp100 ribu.

“Saya kira di tempat rehabilitas ini cukup lengkap pelayanannya. Ada ruangan primary sehingga para klien dapat mengikuti kelas seminar yang menyampaikan materi kenapa mereka harus berhenti menjadi pecandu,” kata Muhadjir.

Dalam kunjungannya, Menko PMK disambut dengan kain ulos asal Toba dari pimpinan Loka Rehabilitasi Deli Serdang, Heru Herlambang.

Selain itu, Muhadjir bersama jajarananya juga meninjau alat PCR (polymerase chain reaction) demi melayani pasien COVID-19 di RSU Muhammadiyah dengan ditemani Direktur RS tersebut, Moh. Riza, dan Rektor UMSU, Agussani.

“Karena di Sumatera Utara tidak semua rumah sakit tersedia alat swab, maka diarahkan ke RSU Muhammadiyah. Di sini ada, 96 PCR server dan ruang uji PCR yang hasilnya dapat diketahui dalam 12 jam, serta hasilnya dapat diterima lewat email ataupun Whatsapp,” pungkas Muhadjir.

Ditangkap Karena Narkoba, Iyut Bing Slamet Pakai Sejak 2004

Halaman: 
Penulis : Aurora Denata
 
×
×