logo


China Desak AS Hentikan Penyalahgunaan Konsep Keamanan Nasional

AS kembali menjatuhkan sanksi terhadap empat perusahaan asal China, salah satunya perusahaan produsen chipset SMIC

4 Desember 2020 20:51 WIB

AS-China
AS-China istimewa

BEIJING, JITUNEWS.COM - Empat perusahaan asal China, termasuk perusahaan chipset SMIC dan perusahaan minyak lepas pantai CNOOC, pada Kamis (3/12) mendapat sanksi dari pemerintahan Donald Trump. Hal itu membuat jumlah perusahaan China yang masuk ke daftar hitam AS semakin banyak.

Sanksi tersebut dijatuhkan usai pemerintahan Donald Trump mengklaim jika perusahaan-perusahaan tersebut dimanfaatkan oleh militer China untuk melakukan tindakan spionase yang mengancam keamanan nasional AS.

Beijing sendiri telah berulang kali mengecam keputusan yang diambil oleh Washington tersebut, mengingat AS tidak dapat menyediakan bukti yang cukup untuk mendukung klaim mereka.


Menlu Iran: Mengapa Negara Barat Dukung Terorisme Israel?

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Hua Chunying, mengatakan bahwa langkah pemberian sanksi tersebut bertolak belakang dengan prinsip kompetisi pasar serta hanya akan merusak citra dan kepentingan AS sendiri.

"Amerika Serikat harus berhenti dalam menyalahgunakan konsep keamanan nasional," ujar Hua Chunying.

SMIC mengatakan bahwa mereka menentang keputusan AS tersebut, dimana hal itu merefleksikan adanya kesalahpahaman yang fundamental terhadap tujuan bisnis dan teknologi.

Perusahaan tersebut juga mengatakan sanksi AS tersebut tidak berdampak signifikan, dimana saham mereka di Hong Kong ditutup melemah hingga 5.4% pada Jumat (4/12).

Sedangkan CNOOC mengatakan bahwa mereka sangat terkejut dan menyesalkan keputusan AS tersebut. Dalam situs resmi perusahaan, perusahaan minyak tersebut mengatakan bahwa langkah AS tersebut diambil berdasarkan "informasi yang keliru dan sangat tidak akurat."

Azerbaijan Sebut 2,783 Tentaranya Tewas selama Konflik Nagorno-Karabakh

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia