logo


Kepala Intelijen AS Sebut Beijing Ingin Kuasai Ekonomi, Teknologi dan Militer Dunia

John Ratcliffe mengatakan bahwa China adalah ancaman terbesar AS dan berniat untuk mendominasi perekonomian, militer dan teknologi dunia

4 Desember 2020 17:46 WIB

Ilustrasi
Ilustrasi China Daily

WASHINGTON, JITUNEWS.COM - Direktur Intelijen Nasional AS John Ratcliffe menyebut China sebagai ancaman terbesar bagi demokrasi dan kebebasan di seluruh dunia sejak Perdang Dunia Kedua, serta berupaya untuk melakukan dominasi global.

"Agen intelijen sudah sangat jelas: Beijing berniat untuk mendominasi AS dan seluruh planet dalam hal ekonomi, militer dan teknologi," kata Redcliffe dalam sebuah opini yang dirilis oleh website The Wall Street Journal, dikutip Reuters, Jumat (4/12).

"China adalah ancaman terbesar AS hari ini, dan ancaman terbesar bagi kebebasan dan demokrasi di seluruh dunia sejak era Perang Dunia Kedua," tambahnya.


Joe Biden Minta Dr Fauci Tetap Jadi Penasihat Kesehatan Gedung Putih

Ratcliffe, yang juga merupakan tokoh politisi Partai Republikan, mengatakan bahwa pendekatan mata-mata perekonomian China adalah dengan: "Mencuri, Meniru, dan Mengganti" dimana strategi tersebut digunakan oleh lembaga-lembaga China untuk mencuri kekayaan intelektual perusahaan Amerika Serikat yakni dengan meniru dan merebut pasar yang selama ini dikuasai oleh perusahaan-perusahaan AS.

Ia juga menuding China telah mencuri sejumlah teknologi pertahanan AS, yang kemudian digunakan untuk melakukan modernisasi peralatan militernya.

Menanggapi pernyataan tersebut, seorang juru bicara Kedutaan China mengatakan bahwa pernyataan Ratcliffe tersebut terdengar munafik dan mencerminkan mentalitas Perang Dingin.

Sementara itu, Presiden terpilih AS Joe Biden, dalam sebuah wawancara dengan CBS pada bulan Oktober lalu, mengatakan bahwa ancaman terbesar AS dalam hal keamanan nasional adalah Rusia.

"Saya pikir ancaman terbesar bagi Amerika saat ini, dalam hal merusak keamanan dan aliansi, adalah Rusia. Kedua, saya pikir kompetitor terbesar (AS) adalah China," katanya.

Turki Ingin Konflik dengan AS soal Pembelian Sistem Pertahanan Udara S-400 Buatan Rusia Selesai

Halaman: 
Penulis : Tino Aditia