logo


Pengamat: HRS Seharusnya Mendapat Bintang Mahakarya

Hal itu dikatakan Fadhli menanggapi pernyataan ulama yang akrab disapa Habib Rizieq itu yang mengatakan tidak ada niatan untuk menjatuhkan pemerintahan yang sah melalui gerakan revolusi akhlak saat dialog nasional sekaligus reuni 212.

3 Desember 2020 11:47 WIB

Habib Rizieq
Habib Rizieq Istimewa

JAKARTA, JITUNEWS.COM- Direktur Eksekutif Sudut Demokrasi Research and Analysis (SUDRA), Fadhli Harahab menyarankan Presiden Jokowi untuk memberikan tanda penghargaan bagi Imam Besar FPI Habib Rizieq Shihab (HRS) karena sering mengkritik kebijakan pemerintah.

Hal itu dikatakan Fadhli menanggapi pernyataan ulama yang akrab disapa Habib Rizieq itu yang mengatakan tidak ada niatan untuk menjatuhkan pemerintahan yang sah melalui gerakan revolusi akhlak saat dialog nasional sekaligus reuni 212.

"Wah, kalau betul gerakan revolusi akhlak itu murni gerakan moral, aku saran kepada presiden berikan penghargaan untuk beliau (HRS). Ya semacam bintang mahakarya," kata Fadhli kepada wartawan, Kamis (3/12/2020).


Kelompok Pendukung Risma Bermunculan, Ini Komentar Wanita Emas

Menurutnya, HRS layak mendapatkan penghargaan seperti Fadli Zon dan Fahri Hamzah karena kerap mengkritisi pemerintah.

Bahkan, HRS dinilai lebih garang dari "duo F" bukan hanya cuap-cuap tetapi langsung terjun memimpin demonstrasi.

"Sayangnya pernyataan itu baru keluar sekarang. Lah yang kemarin bilang pemerintahan ilegal, turunkan Jokowi, tentunya masyarakat akan menilai miring dan sinis, iya kan?," ujarnya.

Analis Sosial politik asal UIN Jakarta itu pun mengatakan, masyarakat akan menilai HRS seperti menjilat ludahnya sendiri karena dulu getol teriakkan turunkan Jokowi, kini justru mengatakan tidak demikian.

"Kita tidak tahu juga HRS dapat bisikan dari mana sehingga menyatakan tidak ada niatan menjatuhkan pemerintah, tetapi setelah TNI turun tangan HRS mulai agak sedikit bijak," ucapnya.

Lebih lanjut, Fadhli menyarankan agar HRS mengubah jargon revolusi jika betul-betul hanya sekedar mengkritisi kebijakan pemerintah yang melenceng dan tidak sesuai dengan keinginan rakyat.

"Karena konotasi revolusi itu ya menjatuhkan pemerintahan. Kan bisa pakai diksi lain, seperti reformasi, pembaharuan atau biar lebih islami ya pakai penyempurnaan akhlak," pungkasnya.

Mengharapkan Presiden Jokowi Menegur Ahok Adalah Sebuah Ilusi

Halaman: 
Penulis : Khairul Anwar